
Serangan AS dan Israel ke Iran terekam kamera. (Platform X)
JawaPos.com - Serangan yang menghantam sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran beberapa waktu lalu berbuah kecaman. Sejumlah senator Partai Demokrat Amerika Serikat (AS), Senin (9/3), bahkan menyerukan penyelidikan terhadap serangan tersebut.
Mereka menyebut serangan tersebut kemungkinan dilakukan oleh pasukan AS dan meminta Pentagon melakukan penyelidikan menyeluruh.
“Analisis independen secara kredibel menunjukkan bahwa serangan terhadap sekolah tersebut mungkin dilakukan oleh pasukan AS … Menteri Pertahanan Pete Hegseth harus memastikan bahwa penyelidikan yang sedang dilakukan Departemen Pertahanan terhadap serangan ini berlangsung secara menyeluruh,” demikian pernyataan bersama yang dipublikasikan melalui akun media sosial Senator Brian Schatz, dilansir dari Antara, Selasa (10/3).
Para senator itu mendesak Hegseth untuk memastikan apakah ada keputusan kebijakan yang berkontribusi terhadap terjadinya serangan tersebut serta memberikan keterangan yang jelas kepada publik dan Kongres mengenai kondisi yang melatarbelakangi insiden itu.
“Insiden ini sangat mengkhawatirkan mengingat pendekatan Menteri Hegseth yang secara terbuka terkesan sembrono dalam penggunaan kekuatan, termasuk pernyataannya bahwa serangan AS di Iran tidak akan terikat oleh ‘aturan keterlibatan yang bodoh’, sebagaimana ia sebutkan,” kata mereka.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh anggota senior Komite Hubungan Luar Negeri Senat Jeanne Shaheen, anggota utama Partai Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat Jack Reed, serta Patty Murray, Mark Warner, Chris Coons, dan Brian Schatz.
Pada hari pertama konflik, sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran selatan, terkena serangan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan sedikitnya 171 siswi tewas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan pertanggungjawaban atas serangan mematikan tersebut.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel pada awalnya menyatakan bahwa serangan “pendahuluan” itu diperlukan untuk menghadapi ancaman yang mereka anggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, keduanya kemudian menyatakan ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama operasi militer AS dan rezim Zionis tersebut. Iran kemudian menetapkan masa berkabung selama 40 hari.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi AS dan Israel itu serta menyerukan deeskalasi segera dan penghentian permusuhan.

Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Jelajah 13 Kuliner Kebab di Surabaya yang Murah Meriah Isian Melimpah dan Rasa Juara
Rekomendasi 11 Kuliner Serba Kikil di Surabaya yang Empuk, Gurih dan Bumbu Khas yang Nendang
Prabowo Putuskan Biaya Haji Turun Rp 2 Juta di Tengah Kenaikan Harga Avtur Global
Pengganti Bruno Moreira Sudah Ditemukan? Winger Rp 1,74 Miliar Ini Bikin Persebaya Surabaya Punya Senjata Baru
Update 4 Rumor Transfer Bintang Timnas Indonesia Musim Depan! Libatkan Persib Bandung, Persebaya Surabaya dan PSV Eindhoven
Donald Trump Tegaskan Pasukan Amerika Serikat Tetap di Sekitar Iran dan Siap Lakukan Penaklukan Berikutnya
Prediksi Persita vs Arema FC: Laga Panas BRI Super League, Singo Edan Incar Curi Poin
Sederet 15 Kuliner Steak di Surabaya Paling Enak dengan Saus Lezat yang Wajib Dicoba Pecinta Daging
