Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 April 2026, 13.57 WIB

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Israel ke Lebanon di Tengah Gencatan Senjata

Satelit NASA menampilkan kondisi Selat Hormuz, jalur strategis energi global. (UN News) - Image

Satelit NASA menampilkan kondisi Selat Hormuz, jalur strategis energi global. (UN News)

JawaPos.com — Iran kembali menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dua pekan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel diumumkan. Langkah ini memperlihatkan rapuhnya kesepakatan tersebut, di tengah berlanjutnya serangan Israel ke wilayah Lebanon yang tetap berlangsung setelah pengumuman gencatan senjata, sekaligus meningkatkan risiko gangguan terhadap sekitar 20 persen pasokan energi global yang melintasi jalur tersebut.

Selat Hormuz, yang menjadi nadi distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas global, kini kembali berada dalam ketidakpastian. Setiap gangguan di titik ini tidak hanya berdampak regional, tetapi langsung mengguncang pasar energi, rantai pasok global, hingga stabilitas ekonomi banyak negara. Penutupan oleh Teheran menegaskan bahwa konflik ini telah melampaui batas konvensional dan masuk ke ranah strategi ekonomi global.

Dilansir dari The Washington Post, Kamis (9/4/2026), Iran, AS, dan Israel menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dalam kesepakatan menit terakhir yang mencegah eskalasi militer lebih luas. Kesepakatan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras dengan menyatakan, “Satu peradaban utuh akan mati malam ini dan tidak akan pernah kembali lagi,” jika Iran menolak mencapai kesepakatan, termasuk membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, stabilitas yang dijanjikan kesepakatan tersebut segera dipertanyakan. Hanya beberapa jam setelah diumumkan, laporan serangan baru kembali muncul pada Rabu (8/4), memperlihatkan bahwa komitmen di atas kertas belum tentu tercermin di lapangan. Wakil Presiden AS, JD Vance, bahkan menyebut situasi ini sebagai “gencatan senjata yang rapuh,” seraya menekankan pentingnya itikad baik dalam proses negosiasi lanjutan.

Ketegangan semakin kompleks ketika Israel menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup konflik dengan kelompok Hizbullah di Lebanon. Pernyataan ini bertolak belakang dengan mediator seperti Pakistan, Prancis, dan Mesir yang menyebut Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa “kesepakatan ini sepenuhnya mencakup Lebanon,” menandakan adanya perbedaan tafsir yang berpotensi memicu eskalasi lanjutan.

Di lapangan, realitasnya jauh dari mereda. Serangan Israel terus berlanjut di Lebanon selatan, termasuk di wilayah Tyre yang dilaporkan menewaskan warga sipil. Di tengah ketidakpastian itu, lebih dari satu juta warga Lebanon masih mengungsi. Seorang pengungsi, Fadi Zaydan, menggambarkan kondisi tersebut dengan pernyataan, “Kami terjebak. Kami tidak tahan lagi hidup dalam ketidakpastian ini.”

Sementara itu, Iran melaporkan serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini memperkuat indikasi bahwa konflik masih berlangsung dalam berbagai bentuk. Adapun di kawasan Teluk, Kuwait menghadapi gelombang serangan drone yang menargetkan fasilitas energi, sementara Uni Emirat Arab mengaktifkan sistem pertahanan udaranya untuk menghadapi ancaman rudal.

Reaksi internasional terhadap penutupan kembali Selat Hormuz mencerminkan kekhawatiran global yang meluas. Arab Saudi menekankan agar jalur strategis tersebut tetap terbuka tanpa hambatan sesuai hukum internasional, sementara India menyoroti pentingnya menjaga kebebasan navigasi demi kelancaran perdagangan global. Di sisi lain, Uni Eropa, bersama sejumlah negara seperti Jerman dan Spanyol, mendorong gencatan senjata yang baru diumumkan agar segera ditingkatkan menjadi kesepakatan permanen.

Di tengah tekanan internasional itu, Pakistan mengambil peran sebagai mediator kunci. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyatakan bahwa Iran telah mengonfirmasi kehadirannya dalam perundingan dengan AS yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad. Kehadiran Iran membuka peluang diplomasi, namun ketidakpastian tetap membayangi jalannya negosiasi.

Perbedaan kepentingan antara pihak-pihak yang terlibat menjadi hambatan utama. Amerika Serikat dan Israel menekankan bahwa program nuklir Iran dan ancaman rudal balistik harus menjadi fokus utama pembicaraan. Seorang pejabat Israel menyatakan Washington akan “bersikeras menghapus material nuklir dan menghentikan pengayaan uranium,” meski hingga kini belum ada indikasi bahwa Iran akan menerima tuntutan tersebut.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore