Michael Saylor. (michael.com)
JawaPos.com – Tekanan pasar kripto yang semakin dalam membuat strategi Bitcoin milik Michael Saylor kembali disorot. Harga BTC yang sempat anjlok hingga ke area USD 91.400 (Rp 1,52 miliar dengan kurs Rp 16.700) menempatkan portofolio Strategy (perusahaan yang selama ini identik dengan akumulasi agresif Bitcoin) dalam situasi yang jauh lebih rapuh dibanding bulan-bulan sebelumnya. Kekhawatiran tentang risiko pembiayaan, leverage, serta nilai aset perusahaan mulai ramai dibahas analis.
Dikutip dari Bitcoinist, Kamis (20/11), ekonom Peter Schiff kembali melontarkan kritik keras. Ia menyebut model bisnis Strategy “sebuah penipuan,” dan menantang Saylor untuk berdebat soal klaim tersebut. Schiff menegaskan, apa pun yang terjadi pada Bitcoin, ia yakin Strategy pada akhirnya akan bangkrut. Tuduhan ini muncul setelah metrik mNAV perusahaan dikabarkan jatuh di bawah nilai kepemilikan BTC-nya, kondisi yang biasanya memicu kekhawatiran terkait kesehatan struktur permodalan perusahaan.
Schiff bukan satu-satunya yang bersuara. Pekan lalu, platform analitik Arkham sempat menuduh Strategy menjual sebagian BTC. Namun Saylor membantah tegas, bahkan mengatakan pihaknya justru membeli Bitcoin setiap hari selama pekan tersebut. Klaim ini terbukti ketika Strategy mengumumkan pembelian terbaru senilai USD 835 juta (Rp 13,94 triliun) — akumulasi terbesar sejak Juli ketika perusahaan membeli BTC senilai USD 2,46 miliar (Rp 41,08 triliun).
Namun agresivitas itu membawa konsekuensi. Pembelian terakhir dilakukan di harga rata-rata USD 102.171, jauh di atas harga BTC saat ini. Data CryptoQuant menunjukkan 43% kepemilikan Strategy berada dalam posisi rugi berdasarkan harga pembelian per batch. Meski secara total average buy perusahaan berada di USD 74.433, tren pelemahan pasar tetap memicu kekhawatiran lanjutan.
Trader veteran Peter Brandt memperingatkan bahwa Bitcoin masih berpotensi turun lebih dalam, bahkan menembus USD 50.000 (Rp 835 juta). Menurutnya, pola penurunan terbaru menunjukkan pelanggaran struktur parabolic advance yang mengingatkan pada siklus penurunan sejarah sebelumnya. Jika skenario itu terjadi, Strategy berisiko memiliki seluruh portofolio BTC-nya dalam kondisi underwater.
Kekhawatiran juga datang dari analis Dom Kwok. Ia menyebutkan bahwa Strategy bisa dipaksa melepas Bitcoin untuk membayar kewajiban bunga, terutama jika mNAV terus berada di bawah batas aman. “Treasury perusahaan tak bisa beroperasi ketika mNAV jatuh di bawah 1,” terangnya, menyebutkan kemungkinan penjualan aset atau kebangkrutan sebagai dua jalur yang mungkin terjadi.
Sinyal serupa disampaikan oleh analis Mana, yang menyebut pasar “akan segera menyaksikan keruntuhan Strategy.” Menurutnya, investor mulai menarik dana sementara pendapatan perusahaan terus melemah, membuatnya menyarankan pasar untuk meninggalkan saham MSTR.
Saat artikel ditulis, Bitcoin berada di kisaran USD 91.400 (Rp 1,52 miliar). Volatilitas tetap tinggi, dan trader terus memantau bagaimana tekanan makro, outflow institusional, serta pergerakan whale memengaruhi peluang stabilisasi harga.
Tekanan pasar terhadap model bisnis Strategy dan akumulasi besar-besaran Saylor menjadi bagian dari sentimen yang membentuk arah Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan. Apakah ini sekadar fase reset atau awal dari tekanan struktural jangka panjang, pasar menunggu konfirmasi dari price action dan respons korporasi.
Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.
