Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 April 2026, 18.53 WIB

Jika Anak-Anak Anda yang Sudah Dewasa Tidak Terbuka kepada Anda, 7 Perilaku Ini Mungkin Menjelaskan Alasannya Menurut Psikologi

seseorang yang tidak terbuka kepada orang tuanya (Freepik/shurkin_son) - Image

seseorang yang tidak terbuka kepada orang tuanya (Freepik/shurkin_son)


JawaPos.com - Ketika anak-anak beranjak dewasa, dinamika hubungan dengan orang tua pun ikut berubah. Jika dulu mereka terbuka tentang hampir segala hal, kini mungkin Anda merasa mereka menjaga jarak, enggan berbagi cerita, atau bahkan terlihat tertutup. Situasi ini bisa memunculkan perasaan bingung, sedih, bahkan penolakan.

Namun, menurut psikologi, sikap tertutup anak yang sudah dewasa jarang terjadi tanpa alasan. Sering kali, ada pola interaksi di masa lalu atau kebiasaan tertentu yang tanpa disadari memengaruhi bagaimana mereka memandang komunikasi dengan orang tua.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh perilaku yang mungkin menjadi penyebab mengapa anak-anak Anda yang sudah dewasa tidak lagi terbuka kepada Anda.

1. Terlalu Sering Menghakimi atau Mengkritik

Jika setiap kali anak berbagi cerita mereka mendapatkan kritik, koreksi, atau penilaian negatif, mereka akan belajar bahwa berbicara dengan Anda tidak aman secara emosional.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan konsep emotional safety. Ketika seseorang merasa dihakimi, otak akan mengasosiasikan percakapan dengan ancaman, bukan kenyamanan.

Akibatnya, anak akan:

Menyaring informasi yang mereka bagikan
Menghindari topik tertentu
Bahkan memilih diam sepenuhnya


2. Tidak Benar-Benar Mendengarkan

Mendengarkan bukan sekadar diam saat orang lain berbicara. Banyak orang tua tanpa sadar:

Menyela
Memberi nasihat terlalu cepat
Mengalihkan topik ke pengalaman pribadi

Ketika anak merasa tidak didengar, mereka akan berpikir, “Untuk apa berbicara kalau tidak dipahami?”

Dalam jangka panjang, ini membuat mereka berhenti berbagi karena merasa percakapan tidak bermakna.

3. Terlalu Mengontrol atau Ikut Campur

Orang tua sering kali ingin membantu, tetapi jika bantuan tersebut berubah menjadi kontrol, anak dewasa akan merasa kehilangan otonomi.

Contohnya:

Terlalu mengatur keputusan hidup
Memberi tekanan tentang karier atau pasangan
Terlibat dalam hal-hal pribadi tanpa diminta

Menurut psikologi perkembangan, kebutuhan akan kemandirian adalah hal yang sangat penting di usia dewasa. Jika kebutuhan ini terganggu, mereka cenderung menarik diri.

4. Reaksi Emosional yang Berlebihan

Jika setiap percakapan berubah menjadi drama emosional—marah, menangis, atau tersinggung—anak akan belajar bahwa keterbukaan membawa konsekuensi yang melelahkan.

Mereka mungkin berpikir:

“Lebih baik tidak cerita daripada membuat situasi jadi rumit.”

Reaksi emosional yang intens dapat menciptakan lingkungan komunikasi yang tidak stabil dan tidak nyaman.

5. Tidak Menghormati Batasan (Boundaries)

Anak yang sudah dewasa memiliki kehidupan pribadi yang ingin mereka kelola sendiri. Jika orang tua:

Memaksa untuk tahu segalanya
Menginterogasi
Tidak menghargai privasi

Maka mereka akan membangun “jarak” sebagai bentuk perlindungan diri.

Dalam psikologi, ini disebut sebagai boundary-setting, yaitu cara seseorang menjaga kesehatan emosionalnya.

6. Sering Membandingkan

Membandingkan anak dengan:

Saudara kandung
Anak teman
Standar tertentu

dapat merusak kepercayaan diri dan hubungan emosional.

Kalimat seperti:

“Kenapa kamu tidak seperti…”

membuat anak merasa tidak cukup baik. Akibatnya, mereka enggan berbagi karena takut dibandingkan lagi.

7. Kurangnya Ekspresi Empati

Empati adalah fondasi hubungan yang sehat. Jika orang tua cenderung:

Meremehkan perasaan anak
Menganggap masalah mereka “tidak penting”
Memberikan solusi tanpa memahami emosi

anak akan merasa tidak divalidasi.

Psikologi menunjukkan bahwa validasi emosi jauh lebih penting daripada solusi instan. Tanpa empati, komunikasi menjadi dingin dan transaksional.

Penutup: Memperbaiki Hubungan Itu Mungkin

Kabar baiknya, hubungan yang renggang masih bisa diperbaiki. Kunci utamanya adalah kesadaran dan kemauan untuk berubah.

Beberapa langkah sederhana yang bisa Anda mulai:

Dengarkan tanpa menghakimi
Tahan diri untuk tidak langsung memberi nasihat
Hormati batasan mereka
Tunjukkan empati secara tulus

Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang menciptakan ruang aman untuk saling memahami.

Mungkin anak Anda tidak benar-benar menjauh—mereka hanya menunggu alasan untuk merasa aman kembali saat berbicara dengan Anda.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore