Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Februari 2025, 20.32 WIB

Pria Legendaris Berkaki Cacat

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Langit di atas kantor militer di Jakarta diselimuti awan mendung saat Kusni Kasdut berdiri antre bersama para pria lain dengan harapan baru yang lebih kuat. Tangannya mencengkeram surat rekomendasinya. Selama empat tahun ia telah berjuang untuk kemerdekaan. Selama itu ia merasa punya arti mengingat masa kecilnya yang suram.

Ia tidak saja berjuang untuk negara barunya, tetapi juga dirinya sendiri. Bergabung dalam milisi yang terdiri dari para begundal, perampok, dan orang-orang yang melihat dunia sebagai penjara, ia mengotori tubuhnya dengan darah dan kematian demi kemerdekaan bangsanya. Dalam sebuah pertempuran, kakinya terluka dan cacat seumur hidup oleh peluru. Oleh karena itu, ia berharap republik yang baru berdiri akan memberikannya pengakuan sebagai seorang tentara.

Kakinya melangkah maju dengan sedikit pincang. Petugas di belakang meja itu hampir tidak mendongakkan kepalanya.

”Nama?”

”Kusni. Kusni Kasdut.”

Petugas itu membolak-balik daftar, mengerutkan kening, lalu matanya melihat kakinya yang pincang. Kemudian, matanya menatap Kusni seakan-akan ia adalah sesuatu yang nista seperti kentut yang segera akan tertiup angin.

”Tidak ada tempat untukmu.”

Kata-kata itu menusuknya. ”Tapi, saya berjuang untuk Indonesia. Saya...”

”Kau adalah seorang gerilyawan. Itu berbeda. Kakimu cacat. Tentara dengan kaki seperti itu tidak akan berguna.”

Orang-orang sepertimu. Kata-kata itu seolah menancap persis di hatinya, menghina rasa keadilannya. Suara kata-kata itu seperti mata bor yang berputar, semakin lama semakin merusak suasana hatinya. Otak di kepalanya seolah mengecil dan menghilang dalam gema kata-kata itu. Tinta pada kertas proklamasi baru saja mengering, tapi bahkan sudah ada orang-orang seperti dirinya dan orang-orang yang bertempur dalam bayang-bayang kematian, yang telah mencabik-cabik musuh mereka dengan pisau berkarat ketika peluru habis, disingkirkan.

Petugas itu mengibaskan tangannya dan memanggil nama berikutnya. Kusni Kasdut tertegun sejenak sebelum kemudian seorang anak muda menggesernya. Dengan berat hati, ia kemudian berjalan ke jalan, tangannya terkepal. Berdiri di jalan dengan wajah mengeras sembari tangannya meremas-remas surat rekomendasinya hingga langit menurunkan hujan. Dengan gerakan yang masygul, ia membuang kertas di selokan hingga air melenyapkan tintanya sekaligus kertasnya.

(++)

Saat itu, ia pernah percaya pada masa depan. Ketika berusia sembilan belas tahun, saat berbaring di hutan dengan senapan di dadanya, dan membayangkan dirinya berbaris menuju Jakarta, sebagai pahlawan dalam sebuah peperangan. Bersama rekan-rekannya berjalan ke kota dengan angin di belakang mereka, dengan jalan-jalan dipenuhi oleh orang-orang yang mengalungkan karangan bunga dan melemparkan bunga ke kaki mereka.

Namun, bahkan negara baru yang diperjuangkannya tidak mengingatnya. Seperti orang tua yang kehilangan ingatan, seperti anak durhaka yang mengusir ibunya. Hutan telah meludahkannya, menghapus jejak sejarahnya yang terancam kematian. Mereka telah melupakan bagaimana ia berjuang untuk kemerdekaan, tetapi kini, kemerdekaan itu tidak memberinya tempat baginya. Kemerdekaan, pikirnya. Semua itu membuatnya tertawa, tapi itu bukan komedi –itu adalah ironi yang tragis baginya.

Dalam beberapa waktu, ia menghabiskan bulan-bulan pertamanya di Jakarta dengan berpindah-pindah dari satu pekerjaan kasar ke pekerjaan kasar lainnya. Menjadi kuli angkut di dermaga. Menjadi penjaga malam di sebuah gudang. Menjadi sopir seorang pengusaha yang tidak pernah ingat namanya. Hingga kemudian, di suatu malam, dengan perut kosong dan kantong melompong yang hanya berisi angin, ia berdiri di depan sebuah toko perhiasan kecil dan melihat bayangannya sendiri di kaca. Matanya menatap lurus. Rasanya ia tidak terlihat seperti seorang pahlawan seperti seharusnya. Ia hanya terlihat seperti pria malang yang telah dilupakan dunia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore