Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Desember 2025, 13.15 WIB

Bahtera

ILUSRASI. (BUDIANTO/JAWA POS)
ILUSRASI. (BUDIANTO/JAWA POS)

Oleh CICILIA ODAY 

---

Rumah Moses Suhardi di Desa Dumoga sering dijuluki bahtera. Bukan semata karena ukurannya, tetapi juga karena bentuk rumah itu sepintas mengingatkan orang pada struktur kapal. Lantai satu, bagian yang paling luas, diandaikan sebagai lambung kapal; bukaan di lantai dua yang menjorok ke sisi luar dan di batasi tirai, tampak seperti geladak; ujungnya yang melancip ke pekarangan depan dimaksudkan sebagai haluan; sedangkan bagian belakang yang memiliki lengkungan serupa sendok dimaksudkan sebagai buritan. Adapun bangunan di lantai dua yang menjorok di tengah-tengah "geladak" tampak seperti anjungan. 

DI rumah itu ting­gallah Mo­ses Suhardi bersama istri dan tiga anak­nya yang masing-masing telah berumah tangga. Konon Moses sengaja membangun rumah yang lapang supaya anak-anaknya tidak perlu mening­gal­kan rumah saat dewasa nanti; agar masa tua Moses Suhardi dan istrinya, Anung, tidak kesepian; agar para cucu leluasa berlarian di dalam rumah tanpa mengotori deng­kul. Di depan batang hidung­nya, orang-orang memuji setengah iri akan keberhasilan Moses Suhardi membangun ”kerajaan” bagi keluarganya. Di belakang, orang-orang mencemooh empat rumah tangga yang berbagi satu atap bersama seperti ikan-ikan dalam kaleng. 

Dinar Suhardi menyadari cemoohan ini. Bukannya ia betah dan nyaman saja tinggal serumah dengan orang tua dan kedua kakak serta pasang­an-pasangan mereka. Namun, penghasilan suaminya sebagai guru honorer memang belum me­mungkinkan untuk meng­am­­bil KPR atau sekadar ngontrak. 

Maka dua bulan setelah pin­dah dari kos-kosan ke rumah orang tuanya yang mirip bahtera itu, Dinar melamar pekerjaan di toko kelontong milik Hajah Nur. Kabar ini menggemparkan warga dan menampar harga diri Moses. Hajah Nur barangkali pedagang tersukses di Dumoga saat ini, tapi di masa lalu ia per­nah punya utang pada Anung. Lagi pula apakah pantas seorang sarjana bekerja mengatur-atur pajangan di toko yang bukan miliknya sendiri? 

”Gajiku dua juta di toko itu dibandingkan gaji Gala cuma tujuh ratus ribu sebulan,” Dinar membela diri. 

Moses berencana menjual salah satu tanah ladangnya yang sudah jarang mengha­sil­kan panen demi memodali Dinar membuka toko sendiri. Sesungguhnya Dinar tak enak pada kedua kakaknya. Padahal si sulung, Ayumi Suhardi, mus­tahil mengelola kebun. Kuku-kukunya selalu terawat cantik hasil polesan mahal dari salon kuku. Kulitnya mulus berkat losion dosis tinggi. Suami Ayu­mi seorang anggota kepolisian yang bertugas di luar kota, hanya pulang dua bulan sekali, sedikit mustahil diandalkan menggarap kebun. 

Di antara mereka bertiga si tengahlah yang lumayan dapat diandalkan. Namun, bela­kang­an pekerjaan di kebun harus terbengkalai sebab modalnya menipis setelah kalah judi daring berturut-turut. Hosea tidak sepakat jika urusan per­kebunan diserahkan kepada saudara-saudara perempuan­nya. Perempuan hanya perlu sekolah dan bekerja di tempat berpendingin udara, tidak bekerja pun tak masalah selama nafkah dari gaji suami. 

*** 

Hari pertama Dinar masuk kerja, Moses meneriakinya dari luar toko hingga urat-urat di leher lelaki paruh baya itu nyembul seperti relief. Orang-orang berkumpul, penasaran. Di kejauhan, geledek memekak langit melatarbelakangi amarah Moses Suhardi. Hajah Nur menyuruh Dinar keluar meng­ha­dapi sang ayah. Namun, perempuan muda itu sembunyi di balik tumpukan ember dan panci, yakin ayahnya tak akan nekat, bahkan pada akhirnya akan pulang sendiri setelah letih teriak. Dugaannya benar. Tak sampai setengah jam ke­mudian, Moses pulang disertai gerutu pedas dan langkah-langkah mengentak. 

Setelah situasi tenang ter­ken­dali, Dinar melangkah keluar dan menengadah ke langit. Tam­pak gumpalan awan tebal nan gelap dan bisu, sesekali di­ikuti gemuruh di kejauhan. Se­bentar lagi hujan badai turun. Tepat ketika hujan deras baru saja mengguyur, ibunya mene­lepon, mengabarkan ayahnya jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri, dan itu salah Dinar. 

*** 

Hujan deras mengguyur berhari-hari, lalu berminggu-minggu, lalu berbulan-bulan. Hujan disertai gemuruh dan en­takan petir yang meman­car­kan cahaya dan garis-garis api di langit. Moses terbaring sakit berhari-hari di bawah perawatan dan perhatian istri dan menantu –istri Hosea. Ayumi menghadiri pertemuan Bhayangkari sehingga tak dapat membantu mengurus sang ayah. Dinar sengaja dijauhkan dari sang ayah demi kebaikan bersama, tapi para cucu yang berisik dibiarkan berlarian dan tertawa-tawa di dekat kamar sang kakek. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore