
Menko bidang Pangan Zulkifli Hasan (kanan) di peluncuran Gerakan Ekonomi Rakyat melalui Pembentukan Kelompok Usaha Gotong Royong oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Kabupaten Bandung (17/10). (GP Ansor)
JawaPos.com - Sektor pangan tanah air mencatatkan sejarah baru. Sejak bertahun-tahun ke belakang, Indonesia selalu impor beras. Tetapi tahun ini, Indonesia tidak impor beras. Bahkan stok beras sekarang mencapai 4 juta ton.
Kabar baik sekaligus bersejarah itu disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan. Dia mengatakan di awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, urusan pangan langsung tancap gas. Harga jual beras hasil panen petani ditingkatkan jadi Rp 6.500 per Kg. Sehingga meningkatkan semangat petani untuk menanam padi.
“Pangan menyangkut sepertiga penduduk Indonesia. Petani kita, peternak dan nelayan kita. Ini harus dibereskan. Buktinya satu tahun ini, kalau kita dulu impor, kita sudah surplus 4 juta ton," kata Zulkifli dalam peluncuran Gerakan Ekonomi Rakyat melalui Pembentukan Kelompok Usaha Gotong Royong oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Kabupaten Bandung (17/10).
Dia mengatakan yang sudah dilakukan oleh Ansor hari ini, yakni bergerak dalam sektor pangan, sama dengan konsep pemberdayaan Presiden Prabowo.
Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu mengatakan, sektor pangan akan menyelesaikan banyak hal. Dia bahkan menyebut sebentar lagi petani di Indonesia akan maju. "Intinya adalah dalam kepemimpinan pemberdayaan. Seperti yang dilakukan oleh GP Ansor,” katanya.
Kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo ingin sektor pertanian atau pangan di Indonesia tumbuh. Zulkifli menegaskan bahwa tujuan bisa tercapai ketika gerakan ekonomi rakyat jalan.
"Kata kunci adalah persatuan. Oleh karena ajak yang tidak mau. Kita adalah saudara sebangsa setanah air. Kita bisa kalau bersama-sama dan bersatu," tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Addin Jauharudin mengatakan, gerakan ekonomi rakyat itu menggunakan pendekatan beberapa pilar. Yaitu korporasi, ekonomi, komunitas, dan individu. Pilar-pilar itu bahu-membahu bergotong royong membangun fondasi ekonomi rakyat yang kokoh.
Diantara produk nyatanya adalah membangun Kampung Peternakan Ayam Terpadu di 22.800 desa atau kelurahan di seluruh Indonesia. Program ini diproyeksikan membentuk 100 kader per desa yang akan menjadi penggerak ekonomi produktif. Kemudian ada 100 ekor ayam per kader. Sehingga akan ada 10.000 ekor ayam per desa.
Lewat program ini, produksi nasional mencapai 228 juta ekor ayam per panen. Atau setara dengan 342 ribu ton per panen, dalam rentang setahun. Total produksi mencapai 2,05 juta ton daging ayam, dengan nilai ekonomi hingga Rp 115 triliun per tahun. Program ini membuka lapangan kerja baru untuk 1,5 juta orang. Serta berkontribusi terhadap pemenuhan gizi nasional sebesar 0,8 persen.
"Visi jangka panjang gerakan ini adalah mengintegrasikan seluruh rantai nilai usaha peternakan ayam, dari hulu hingga hilir," kata Addin.
Dengan demikian, tidak hanya petani atau peternak kecil yang diuntungkan. Tetapi seluruh ekosistem ekonomi. Mulai dari pakan ternak, pemeliharaan, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Semuanya akan terhubung dalam satu sistem yang saling memperkuat.
