
Ilustrasi pembangkit listrik panas bumi. (Istimewa)
JawaPos.com - Energi panas bumi kian menempati posisi strategis dalam peta transisi energi nasional. Bahkan Indonesia disebut memiliki salah satu cadangan terbesar di dunia. Kondisi itu terlihat dari kinerja bisnis positif PT Pertamina Geothermal Energi Tbk (PGE) (IDX: PGEO) sepanjang 2025.
Indikatornya terlihat dari peningkatan laba bersih dan penambahan kapasitas terpasang listrik yang dilakukan PGE. Dengan demikian, sektor energi panas bumi tidak lagi sekadar alternatif, melainkan mulai menjadi tulang punggung bagi transisi energi bersih Indonesia.
Pengamat energi Hadi Ismoyo menilai capaian itu mencerminkan momentum penting bagi pengembangan energi panas bumi di Tanah Air. “Potensi panas bumi Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dari seluruh potensi yang tersedia, ruang pertumbuhan masih sangat luas,” kata Hadi kepada wartawan pada Kamis (26/3).
Menurut Hadi, penambahan pencapaian kapasitas terpasang PGE yang kini mencapai 727 megawatt (MW), naik dari sebelumnya 672 MW menjadi bukti bahwa akselerasi pengembangan panas bumi mulai menunjukkan hasil nyata.
Dia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak boleh berhenti pada level korporasi semata. Dalam konteks bauran energi nasional, kinerja seperti itu perlu mendapatkan dukungan penuh. Baik dari sisi regulasi, insentif, maupun kemudahan investasi. "Panas bumi adalah energi dengan baseload yang stabil, berbeda dengan energi terbarukan lain seperti surya atau angin,” jelas Hadi.
Untuk diketahui, pemerintah tengah menargetkan perluasan kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 76 persen dalam periode 2025–2034 melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak mengatakan, dalam skenario tersebut panas bumi dipandang sebagai salah satu kontributor utama yang mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus menekan emisi karbon. Tren positif yang ditunjukkan PGE berpotensi mempercepat laju transisi energi di Indonesia.
“Jika kinerja (bisnis) seperti ini terus dijaga dan diperluas, bukan tidak mungkin transisi energi akan berjalan lebih agresif. Panas bumi bisa menjadi game changer, terutama karena Indonesia memiliki salah satu cadangan terbesar di dunia,” kata Ali.
Saat ini pemerintah mencanangkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, kata dia, salah satunya harus ditopang suplai energi, termasuk energi listrik. “Karena setiap satu persen pertumbuhan ekonomi ditopang 1,8 persen pertumbuhan ketenagalistrikan,” ujarnya.
