Menghindari pay later adalah salah satu cara cerdas belanja lebaran tanpa utang (freepik)
JawaPos.com – Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga tetapi juga tentang mengelola diri termasuk dalam hal keuangan. Menjelang Idul Fitri, kebutuhan sering meningkat sehingga banyak orang tergoda berutang demi memenuhi gaya hidup Lebaran.
Padahal, belanja lebaran tanpa utang sangat mungkin dilakukan jika direncanakan dengan baik. Dengan pengelolaan keuangan yang bijak, Ramadhan bisa tetap khusyuk tanpa stres finansial.
Menurut World Bank, literasi keuangan berperan penting dalam membantu keluarga membuat keputusan keuangan yang lebih sehat. Perencanaan yang matang dapat mencegah risiko utang konsumtif.
Selain itu, Federal Reserve dalam laporan ekonomi rumah tangga menyoroti bahwa pengeluaran tak terencana sering menjadi penyebab utama utang konsumen. Hal ini sering terjadi saat momen hari raya.
Berikut 6 cara belanja Lebaran tanpa utang agar Ramadhan tetap tenang dan penuh keberkahan sebagaimana dilansir dari laman Consumer Finance dan Investopedia, Selasa (3/3) :
Langkah pertama adalah membuat anggaran khusus untuk Ramadhan dan Idul Fitri. Pisahkan dari anggaran bulanan rutinan agar lebih terkontrol.
Menurut Consumer Financial Protection Bureau, membuat anggaran tertulis membantu mengurangi pengeluaran impulsif. Catat juga kebutuhan seperti bahan makanan, pakaian dan THR keluarga.
Tentukan batas maksimal belanja sejak awal. Dengan begitu, Anda tidak mudah tergoda diskon besar menjelang lebaran.
Ramadhan mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri. Prinsip ini juga berlaku saat berbelanja. Investopedia menjelaskan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan dalam perencanaan keuangan.
Baju baru memang menyenang dan ini tidak bisa dipungkiri namun bukan kewajiban setiap tahun juga. Lebih baik utamakan kebutuhan pokok seperti bahan makanan untuk sahur dan berbuka lalu sisanya dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Diskon Ramadhan sering menggoda untuk membeli lebih banyak dari yang diperlukan. Padahal membeli barang diskon yang tidak dibutuhkan tetaplah pemborosan.
Menurut Harvard Business Review, promosi dapat memicu perilaku belanja impulsif jika tidak direncanakan. Karena itu, tetap berpegang pada daftar belanja.
