Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Oktober 2025, 20.54 WIB

Disaksikan Donald Trump, Thailand dan Kamboja Sepakat Gencatan Senjata: Tapi 'Ada Udang di Balik Batu'

Presiden AS Donald Trump, paling kanan, berjabat tangan dengan PM Thailand Anutin Charnvirakul. PM Hun Manet menyaksikan saat upacara penandatanganan gencatan senjata.(Mark Schiefelbein/AP].

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan pengaruh geopolitiknya di Asia Tenggara lewat perannya dalam perjanjian gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja, yang disertai paket kesepakatan dagang dan pembelian senjata bernilai miliaran dolar.

Langkah ini menandai strategi baru Washington di bawah Trump yang menggabungkan diplomasi keamanan dan perdagangan untuk mengimbangi pengaruh Tiongkok di kawasan.

Mengutip Al-Jazeera, Trump menandatangani kesepakatan tersebut bersama Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di sela-sela KTT ASEAN di Kuala Lumpur, Minggu (26/10).

Kesepakatan itu memperkuat gencatan senjata Juli lalu yang mengakhiri pertempuran perbatasan berdarah antara Thailand dan Kamboja, dan kini diperluas dengan komitmen ekonomi dan pertahanan baru.

“Kami melakukan sesuatu yang banyak orang katakan mustahil,” ujar Trump saat upacara penandatanganan.

Sementara itu Anutin menyebut kesepakatan tersebut sebagai 'fondasi menuju perdamaian abadi', sementara Hun Manet menyebut hal tersebut sebagai hari bersejarah bagi kawasan. Anwar menambahkan bahwa rekonsiliasi 'bukan bentuk kelemahan, melainkan keberanian'.

Di balik narasi perdamaian, pengamat menilai kesepakatan ini juga menjadi panggung Trump untuk menegaskan kembali pengaruh militer dan ekonomi AS di Asia Tenggara.

Bersamaan dengan perjanjian gencatan senjata, Trump menandatangani paket perdagangan dan pertahanan dengan Thailand, Kamboja, dan Malaysia, termasuk pembelian pesawat tempur, produk energi, dan pertanian dari Amerika Serikat.

Menurut rilis Gedung Putih, Thailand sepakat membeli 80 pesawat AS senilai USD 18,8 miliar, serta produk energi dan pertanian senilai lebih dari USD 8 miliar per tahun.

Kamboja berkomitmen bekerja sama dengan Boeing untuk “membangun ekosistem penerbangan nasional,” sementara Malaysia akan membeli 30 pesawat dan LNG senilai USD 3,4 miliar per tahun, serta berinvestasi hingga USD 70 miliar di AS.

Selain itu, Malaysia juga berjanji tidak akan membatasi ekspor mineral kritis dan unsur tanah jarang ke Amerika Serikat, langkah yang memperkuat dominasi Washington dalam rantai pasok teknologi global.

Namun demikian, meski Trump memproklamirkan gencatan senjata ini sebagai pencapaian diplomatik, sejumlah analis meragukan stabilitasnya.

Sebastian Strangio, jurnalis dan penulis Cambodia: From Pol Pot to Hun Sen and Beyond, menyebut perjanjian itu lebih merupakan pertunjukan politik daripada penyelesaian substansial.

“Mereka tidak menyentuh akar masalah, yaitu batas wilayah yang belum tuntas sejak perjanjian Prancis tahun 1907,” ujar Strangio kepada Al Jazeera.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore