
Ilustrasi seseorang yang tampak marah kepada ponselnya./Freepik
JawaPos.com - Mengungkapkan kemarahan adalah hal yang wajar. Namun, cara seseorang menyampaikan ketidakpuasan dapat mencerminkan status sosial dan kendali emosinya. Banyak orang berpendidikan dan berkecukupan telah belajar mengelola amarah mereka secara strategis.
Orang-orang dari kelas menengah atas cenderung memiliki kosakata tertentu yang mereka hindari saat berkonflik, bahkan ketika sedang marah.
Hal ini dilakukan untuk melindungi posisi dan kredibilitas mereka, melansir dari Geediting.com Sabtu (8/11), yang menyatakan bahwa mereka tahu bagaimana cara bertarung tanpa kehilangan kendali. Berikut adalah sepuluh frasa yang sebisa mungkin tidak akan mereka gunakan.
1. "Kau membuatku terlihat bodoh"
Kalangan menengah atas tidak pernah merasa khawatir terlihat bodoh karena mereka sudah cukup percaya diri dengan posisi mereka. Frasa ini menunjukkan adanya rasa tidak aman yang sangat mendalam tentang posisi sosialnya. Mereka lebih memilih mengatakan, "Saya rasa itu tidak mencerminkan apa yang terjadi sebenarnya."
2. "Kau tahu siapa aku?"
Ungkapan ini adalah penanda ketidakamanan; status seseorang seharusnya tidak perlu diumumkan. Orang yang benar-benar punya kekuasaan tidak akan pernah mengatakannya secara gamblang. Mereka lebih memilih mengatakan, "Saya harus menyampaikan hal ini kepada [nama orang berwenang]."
3. "Itu tidak adil"
Bagi mereka, keadilan adalah konsep yang emosional dan subjektif. Orang yang telah lama berada dalam kekuasaan institusional memahami bahwa patokan yang penting adalah kebijakan atau preseden, bukan perasaan. Mereka akan berargumen berdasarkan "kebijakan yang berlaku" atau "preseden keputusan yang pernah ada."
4. "Kau tidak bisa bicara padaku seperti itu"
Mengatakan frasa ini akan menempatkan seseorang pada posisi defensif dan fokus pada nada bicara. Mereka lebih peduli pada rasa tidak dihormati daripada mencari solusi atas masalah yang ada. Mereka cenderung akan menarik diri dengan berkata, "Saya rasa diskusi ini tidak produktif sekarang."
5. "Aku akan menuntutmu"
Ancaman tindakan hukum adalah hal yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki sumber daya atau koneksi untuk menindaklanjutinya. Orang yang benar-benar memiliki akses ke pengacara tidak akan pernah mengumumkannya di tengah kemarahan. Mereka akan mengatakan, "Saya akan berkonsultasi dengan pengacara saya tentang langkah selanjutnya."
6. "Terserah"
Kata yang menunjukkan sikap mengabaikan ini adalah kemewahan yang jarang diumbar di depan umum. Orang dengan sumber daya cenderung keluar dari percakapan dengan strategi yang terkontrol. Mereka akan memilih berkata, "Saya rasa kita menemui jalan buntu," daripada langsung menyerah.
