Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Januari 2026, 15.44 WIB

Orang yang Masih Lebih Suka Menelepon daripada Mengirim Pesan Teks Memiliki 8 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang lebih suka langsung menelepon


JawaPos.com - Di era ketika satu kalimat singkat di WhatsApp dianggap sudah cukup untuk mewakili perasaan, masih ada sekelompok orang yang memilih jalan “lama”: mengangkat telepon dan berbicara langsung. Bagi sebagian orang, menelepon terasa merepotkan, terlalu personal, bahkan mengganggu. Namun bagi yang melakukannya, panggilan suara justru terasa lebih jujur, hangat, dan bermakna.

Psikologi melihat kebiasaan ini bukan sekadar soal preferensi komunikasi, melainkan cerminan kepribadian yang lebih dalam. Orang yang lebih suka menelepon dibanding mengetik pesan teks sering kali memiliki pola berpikir, emosi, dan nilai sosial yang khas. 

 
Dilansir dari Geediting pada Minggu (18/1), terdapat delapan ciri kepribadian yang umumnya mereka miliki menurut sudut pandang psikologis.
 
Baca Juga: Orang-Orang yang Benar-Benar Sukses di Masa Pensiun Biasanya Menunjukkan 8 Kebiasaan Harian Ini Menurut Psikologi

1. Menghargai Koneksi Emosional yang Nyata


Bagi mereka, suara manusia bukan sekadar medium, melainkan jembatan emosi. Nada bicara, jeda napas, hingga tawa kecil di sela percakapan dianggap jauh lebih bermakna daripada deretan emoji.

Secara psikologis, ini menunjukkan kebutuhan akan kedekatan emosional yang autentik. Mereka ingin merasakan lawan bicara, bukan sekadar membaca kata-kata dingin di layar.
 
Baca Juga: Orang yang Tidak Akan Keluar Rumah Sebelum Pekerjaan Rumah Selesai Biasanya Memiliki 8 Kekuatan Ini Menurut Psikologi

2. Lebih Ekspresif dan Terbuka Secara Emosional


Orang yang gemar menelepon biasanya tidak takut mengekspresikan perasaan secara langsung. Mereka nyaman dengan keheningan sesaat, intonasi suara, bahkan emosi yang spontan keluar tanpa sempat “diedit”.

Berbeda dengan pesan teks yang bisa dipikirkan berulang kali, menelepon menuntut kejujuran saat itu juga. Ini menandakan kepribadian yang relatif terbuka dan tidak terlalu defensif secara emosional.

3. Percaya Diri dalam Interaksi Sosial


Tidak semua orang berani menelepon tanpa rasa canggung. Mereka yang melakukannya umumnya memiliki tingkat kepercayaan diri sosial yang cukup baik. Mereka tidak terlalu takut salah bicara atau dinilai secara langsung.

Psikologi sosial melihat ini sebagai tanda social self-efficacy—keyakinan bahwa diri sendiri mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang lain.

4. Tidak Menyukai Ambiguitas

Pesan teks sering menimbulkan salah paham. Satu kalimat bisa ditafsirkan berbeda tergantung suasana hati pembaca. Orang yang lebih suka menelepon biasanya tidak nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini.

Dengan menelepon, mereka bisa langsung mengklarifikasi, mendengar respons real-time, dan memastikan pesan diterima sebagaimana dimaksud. Ini mencerminkan kepribadian yang menyukai kepastian dan kejelasan.

5. Lebih Sabar dan Berorientasi pada Proses


Menelepon membutuhkan waktu dan perhatian penuh. Tidak bisa dilakukan sambil lalu seperti mengetik pesan singkat. Orang yang memilih cara ini umumnya tidak keberatan meluangkan waktu untuk sebuah interaksi.

Secara psikologis, ini menunjukkan orientasi pada proses, bukan sekadar hasil. Mereka menikmati percakapan itu sendiri, bukan hanya informasi yang ditransfer.

6. Memiliki Empati yang Lebih Tinggi


Mendengar suara orang lain membuat emosi lebih mudah ditangkap—sedih, senang, ragu, atau lelah. Orang yang terbiasa menelepon cenderung lebih peka terhadap sinyal emosional ini.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa empati berkembang lebih kuat melalui interaksi verbal langsung dibanding komunikasi berbasis teks. Tak heran jika mereka sering dianggap pendengar yang baik.

7. Cenderung Lebih Autentik dan Apa Adanya


Pesan teks memberi ruang untuk “memoles” citra diri. Menelepon tidak. Apa yang keluar dari mulut adalah refleksi langsung dari pikiran dan perasaan saat itu.

Orang yang memilih menelepon biasanya lebih nyaman menjadi diri sendiri. Mereka tidak terlalu terobsesi dengan kesan sempurna, melainkan kejujuran dalam interaksi.

8. Menghargai Hubungan Jangka Panjang


Bagi mereka, menelepon bukan sekadar alat komunikasi, tetapi investasi relasi. Panggilan suara sering digunakan untuk menjaga kedekatan, memperbaiki hubungan, atau menunjukkan kepedulian yang lebih dalam.

Psikologi kepribadian mengaitkan hal ini dengan orientasi relasional jangka panjang—di mana kualitas hubungan lebih penting daripada efisiensi semata.

Kesimpulan: Di Tengah Dunia Serba Cepat, Mereka Memilih Kedalaman


Orang yang masih lebih suka menelepon daripada mengirim pesan teks sering kali dianggap “kuno” atau tidak praktis. Padahal, di balik kebiasaan itu tersimpan kepribadian yang kaya: emosional, empatik, percaya diri, dan menghargai koneksi manusia yang nyata.

Di dunia yang semakin dipenuhi notifikasi singkat dan balasan instan, mereka seolah mengingatkan satu hal penting: tidak semua hal bermakna bisa disampaikan lewat teks. Kadang, suara manusia—apa adanya—masih menjadi bahasa paling jujur untuk memahami satu sama lain.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore