Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Februari 2026, 05.15 WIB

7 Hal Tidak Dipahami Pasangan 'Hemat' Tentang Mengapa Pasangan yang 'Boros' Tidak Bisa Berhenti Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki pasangan yang hemat./Freepik/syda_productions

 
JawaPos.com - Dalam banyak hubungan, konflik soal uang sering kali lebih panas daripada konflik soal waktu atau perhatian.
 
Pasangan yang “hemat” merasa pasangannya terlalu impulsif dan tidak punya kontrol diri. Sebaliknya, pasangan yang dianggap “boros” merasa dihakimi, dikekang, atau tidak dipahami.

Padahal, perilaku keuangan jarang sesederhana “bisa atau tidak bisa menahan diri.” Di balik kebiasaan belanja berlebihan, sering ada faktor psikologis yang lebih dalam. 
 
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (21/2), terdapat tujuh hal yang sering tidak dipahami oleh pasangan yang sangat hemat.

1. Bagi Sebagian Orang, Belanja Adalah Regulasi Emosi

Pasangan yang hemat sering melihat belanja sebagai aktivitas rasional: butuh atau tidak butuh. Namun bagi sebagian orang, belanja adalah alat regulasi emosi.

Saat stres, sedih, marah, atau merasa tidak dihargai, membeli sesuatu bisa memberi rasa lega sesaat. Secara neurologis, aktivitas membeli dapat memicu pelepasan dopamin—zat kimia otak yang berhubungan dengan rasa senang dan reward.

Artinya, yang dicari bukan barangnya, tetapi sensasi emosionalnya.

Jika pasangan yang hemat hanya berkata, “Kamu harusnya bisa kontrol diri,” mereka sering tidak menyadari bahwa yang sedang terjadi adalah upaya (meski tidak sehat) untuk menenangkan emosi.

2. Ada Pola Attachment yang Berperan

Teori attachment dari John Bowlby menjelaskan bahwa cara kita membentuk ikatan emosional di masa kecil memengaruhi perilaku kita saat dewasa.

Beberapa orang dengan attachment cemas cenderung mencari rasa aman melalui simbol-simbol eksternal: barang, hadiah, atau gaya hidup tertentu. Membeli sesuatu bisa menjadi cara tidak sadar untuk merasa “cukup” atau “berharga.”

Pasangan yang hemat mungkin melihat ini sebagai pemborosan. Padahal, di bawahnya ada kebutuhan akan rasa aman dan validasi.

3. “Boros” Sering Kali Berkaitan dengan Self-Worth

Bagi sebagian orang, pengeluaran berlebihan berkaitan dengan harga diri. Jika sejak kecil mereka merasa kurang, diremehkan, atau harus membuktikan diri, konsumsi bisa menjadi simbol keberhasilan.

Konsep ini sering dikaitkan dengan teori kebutuhan dari Abraham Maslow. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia mencari pengakuan (esteem) dan aktualisasi diri.

Masalahnya, sebagian orang mencoba memenuhi kebutuhan esteem lewat konsumsi: pakaian bermerek, gadget terbaru, pengalaman mahal. Pasangan yang hemat melihat angka. Pasangan yang “boros” merasakan identitas.

4. Otak Impulsif Bekerja Lebih Cepat dari Logika


Dalam psikologi kognitif, dikenal perbedaan antara sistem berpikir cepat (emosional, impulsif) dan sistem berpikir lambat (rasional, analitis). Jika seseorang lebih dominan menggunakan sistem cepat dalam keputusan sehari-hari, mereka lebih rentan terhadap pembelian impulsif.

Pasangan yang hemat sering kali lebih kuat di sisi perencanaan dan kontrol jangka panjang. Mereka sulit memahami bagaimana seseorang bisa “terbawa suasana” diskon atau promo.

Bagi si “boros”, godaan itu terasa sangat nyata dan mendesak—seolah jika tidak dibeli sekarang, ada sesuatu yang hilang.

5. Uang Memiliki Makna Emosional yang Berbeda untuk Setiap Orang

Uang bukan hanya alat tukar. Secara psikologis, uang bisa berarti:

Kebebasan

Keamanan

Kekuasaan

Cinta

Penghargaan

Pasangan yang hemat sering memaknai uang sebagai keamanan masa depan. Menabung berarti merasa tenang.

Sebaliknya, pasangan yang “boros” bisa memaknai uang sebagai kebebasan atau kenikmatan hidup saat ini. Menghabiskan uang berarti merasa hidup dan berdaya.

Konflik terjadi bukan hanya karena angka, tetapi karena makna yang berbeda.

6. Kebiasaan Finansial Dibentuk oleh Pola Keluarga


Perilaku keuangan sering merupakan hasil modeling dari orang tua. Jika seseorang tumbuh di keluarga yang:

Menggunakan belanja sebagai hadiah,

Mengatasi stres dengan konsumsi,

Tidak pernah membicarakan perencanaan keuangan,

maka pola itu bisa terbawa hingga dewasa.

Sebaliknya, pasangan yang hemat mungkin tumbuh di lingkungan yang sangat disiplin atau bahkan kekurangan, sehingga menabung menjadi bentuk kontrol dan keamanan.

Tanpa memahami latar belakang ini, pasangan yang hemat mudah menganggap perilaku boros sebagai “kesalahan moral,” padahal sering kali itu adalah pola yang tertanam lama.

7. Rasa Dikontrol Justru Bisa Memicu Perilaku Lebih Impulsif


Ironisnya, semakin keras pasangan yang hemat mengontrol, semakin kuat dorongan belanja pada sebagian orang.

Dalam psikologi, ketika seseorang merasa otonominya terancam, mereka bisa menunjukkan perilaku reaktansi—dorongan untuk merebut kembali kebebasan. Akibatnya, mereka bisa diam-diam berbelanja atau menjadi lebih impulsif.

Alih-alih berhenti, perilaku malah menjadi lebih tersembunyi dan berisiko.

Jadi, Apakah Pasangan yang “Boros” Tidak Bisa Berubah?


Bisa berubah—tetapi bukan hanya dengan nasihat “kamu harus lebih disiplin.”

Perubahan biasanya memerlukan:

Kesadaran akan pemicu emosional

Strategi regulasi emosi yang lebih sehat

Diskusi terbuka tentang makna uang

Sistem keuangan bersama yang memberi ruang aman untuk keduanya

Pasangan yang hemat tidak salah ingin stabilitas. Pasangan yang “boros” juga tidak selalu sekadar ceroboh. Keduanya sering membawa luka, pola, dan kebutuhan psikologis yang berbeda.

Ketika konflik uang dilihat sebagai konflik kebutuhan emosional—bukan sekadar angka—percakapan bisa berubah dari saling menyalahkan menjadi saling memahami.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore