
Seorang anak laki-laki yang berusaha untuk fokus (dok. freepik)
JawaPos.com - Fungsi eksekutif merupakan serangkaian kemampuan mental yang memungkinkan seseorang untuk merencanakan, mengatur, dan mengendalikan perilaku.
Namun, ketika fungsi ini terganggu, kemampuan seseorang untuk berpikir secara terarah, mengambil keputusan, dan mengelola emosi bisa menurun. Kondisi ini dikenal sebagai disordered executive function atau executive dysfunction.
Walaupun bukan diagnosis mandiri, gangguan fungsi eksekutif sering menjadi bagian dari berbagai kondisi neurologis dan kejiwaan seperti ADHD, depresi, atau demensia.
Melansir Medical News Today, fungsi eksekutif membantu otak dalam mengatur cara berpikir dan bertindak. Keterampilan ini meliputi kemampuan merencanakan, mengorganisasi, berkonsentrasi, mengelola emosi, mengingat informasi penting, dan menyelesaikan masalah. Ketika fungsi ini terganggu, seseorang akan kesulitan untuk mengelola diri atau mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Gangguan fungsi eksekutif tidak diakui sebagai diagnosis tersendiri dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi kelima (DSM-5). Artinya, kondisi ini lebih merupakan gejala dari gangguan lain.
Misalnya, seseorang dengan depresi mungkin mengalami gangguan pada memori, fokus, atau kemampuan mengontrol diri. Begitu pula pada penderita Alzheimer, gangguan fungsi eksekutif bisa menyebabkan mereka tidak mampu melakukan aktivitas dasar seperti berpakaian, menyetir, atau berinteraksi secara wajar.
Gejala dan Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Orang dengan gangguan fungsi eksekutif dapat menunjukkan berbagai gejala, seperti kesulitan mengontrol emosi dan dorongan, sulit memulai atau menyelesaikan tugas, tidak mampu fokus, serta mudah lupa terhadap hal-hal jangka pendek. Mereka mungkin juga menunjukkan perilaku sosial yang tidak pantas, kesulitan memecahkan masalah, dan kesulitan memahami informasi baru.
Akibatnya, fungsi eksekutif yang terganggu bisa memengaruhi banyak aspek kehidupan. Di tempat kerja atau sekolah, individu mungkin kesulitan mengatur waktu atau menyelesaikan pekerjaan. Dalam hubungan sosial, mereka bisa tampak ceroboh, mudah marah, atau tidak sensitif terhadap orang lain. Masalah ini juga dapat memicu harga diri rendah, kehilangan motivasi, hingga menarik diri dari aktivitas yang menantang.
Pada anak-anak, gejala seperti tidak fokus, sulit menunggu giliran, atau mudah frustrasi sering kali masih normal karena fungsi eksekutif belum berkembang sepenuhnya. Namun, jika perilaku tersebut terus berlanjut hingga usia sekolah, bisa jadi anak mengalami gangguan dalam perkembangan fungsi eksekutifnya.
Hubungan Antara ADHD dan Gangguan Fungsi Eksekutif
ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder adalah salah satu penyebab paling umum dari gangguan fungsi eksekutif. Kondisi ini memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan impuls, mengatur perhatian, dan tetap fokus pada tugas tertentu. Gejalanya bisa berupa mudah gelisah, sulit duduk diam, sering berbicara berlebihan, bertindak tanpa berpikir, dan sering menyela orang lain saat berbicara.
Selain itu, penderita ADHD sering kali mudah terdistraksi, membuat kesalahan ceroboh, dan kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan fokus berkelanjutan. Meskipun ADHD menjadi penyebab utama, kondisi lain seperti gangguan kecemasan, depresi, atau autisme juga bisa menyebabkan gangguan fungsi eksekutif yang serupa.
Penyebab Lain dari Gangguan Fungsi Eksekutif
Gangguan fungsi eksekutif dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis dan psikologis. Beberapa di antaranya termasuk depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, OCD, autisme, Alzheimer, dan bentuk lain dari demensia seperti frontotemporal dementia atau Lewy body dementia. Cedera otak traumatis dan sindrom Tourette juga bisa memengaruhi kemampuan otak dalam mengatur perilaku.
