
Ilustrasi harga Ethereum yang turun. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Harga Ethereum (ETH) kembali tertekan, menandakan pasar Kripto belum sepenuhnya pulih dari tekanan global. Dikutip dari Bitcoinist, Selasa (4/11), ETH diperdagangkan di kisaran USD 3.710 atau sekitar Rp 61,2 juta (kurs Rp 16.500 per USD) setelah turun 4,5% dalam 24 jam terakhir.
Aset ini gagal mempertahankan tren naiknya dan kini berkutat di bawah level USD 3.800 (Rp 62,7 juta), menguji zona support penting di USD 3.715 (Rp 61,3 juta). Para analis menyebut area ini telah berkali-kali diuji sejak Oktober, menjadi medan tarik-menarik antara pembeli dan penjual.
Indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI) dan MACD menunjukkan melemahnya momentum, menandakan penjual masih menguasai pasar. Jika penutupan harga harian turun di bawah USD 3.680 (Rp 60,7 juta), ETH berisiko meluncur lebih dalam ke USD 3.550–3.500 (Rp 58,6–57,7 juta).
Namun, para analis menilai masih ada peluang pemulihan jangka pendek. Jika ETH mampu memantul dari area tersebut, target kenaikan berada di sekitar USD 3.920 hingga USD 4.000 (Rp 64,7–66 juta).
Menariknya, grafik jangka menengah Ethereum menunjukkan pola falling wedge — pola teknikal yang kerap muncul sebelum pembalikan tren bullish. “Struktur ini bisa jadi sinyal awal kembalinya momentum positif,” tulis Bitcoinist.
Meski harga melemah, data on-chain justru menunjukkan tanda-tanda akumulasi besar-besaran. Menurut Glassnode dan Sentora, lebih dari USD 600 juta (Rp 9,9 triliun) ETH telah ditarik dari bursa dalam satu minggu terakhir.
Langkah ini biasanya menandakan bahwa investor sedang memindahkan aset ke cold wallet untuk penyimpanan jangka panjang, bukan untuk dijual. Dengan kata lain, pasar retail dan institusi tengah mengumpulkan ETH di harga bawah.
Selain itu, rasio MVRV (Market Value to Realized Value) Ethereum kini berada di 1,50, level yang secara historis dianggap sebagai titik keseimbangan sebelum tren naik besar.
Menariknya, ETH yang di-staking mencatat rasio MVRV lebih tinggi, yakni 1,7, menandakan keyakinan kuat dari pemegang jangka panjang terhadap potensi pemulihan harga. Saat ini, 36,1 juta ETH telah di-stake, setara dengan sepertiga total pasokan ETH di jaringan.
Ekosistem Ethereum juga menunjukkan kekuatan dari sisi penggunaan jaringan. Sepanjang Oktober, volume transaksi stablecoin di jaringan Ethereum menembus USD 2,82 triliun (Rp 46.530 triliun), naik 45% dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan ini, menurut analis, bukan tanda pelarian modal, melainkan rotasi aset. Trader dan lembaga keuangan menempatkan dana di stablecoin sembari menunggu waktu yang tepat untuk kembali masuk ke pasar ETH.
Selain itu, arus dana institusional ke produk berbasis Ethereum terus meningkat. Sepanjang 2025, inflow ke produk investasi ETH telah menembus USD 15 miliar (Rp 247,5 triliun), menunjukkan kepercayaan jangka panjang terhadap peran Ethereum di sektor DeFi dan pembayaran digital.
Meski volatilitas jangka pendek masih tinggi, banyak analis memandang koreksi ini hanya jeda sementara sebelum reli berikutnya.
“Fundamental jaringan tetap kuat, dan data on-chain menunjukkan tekanan jual sudah berkurang,” tulis Bitcoinist. Jika momentum membaik dan pasar global stabil, ETH berpotensi menuju USD 4.100–4.200 (Rp 67,6–69,3 juta) seperti yang diproyeksikan sejumlah analis teknikal.
Untuk sementara, investor disarankan tetap waspada terhadap penembusan support di bawah USD 3.680, namun akumulasi bertahap di level ini mulai dianggap strategis bagi pelaku pasar jangka panjang.
