Viktor Gyokeres belum menunjukkan ketajamannya di Arsenal, dan Emmanuel Eboue menilai para pemain sayap perlu lebih fokus menyuplai bola agar sang striker bisa kembali produktif. (Instagram/@arsenal)
JawaPos.com - Viktor Gyokeres belum mampu mereplikasi ketajaman yang membuat namanya begitu ditakuti musim lalu.
Sejak bergabung dengan Arsenal, striker asal Swedia itu masih kesulitan menemukan konsistensi mencetak gol, sebuah situasi yang mulai memunculkan tanda tanya besar.
Apakah masalahnya ada pada sang pemain, atau justru pada sistem dan dukungan di sekelilingnya?
Ekspektasi terhadap Gyokeres memang terlanjur tinggi. Ia datang dengan reputasi sebagai salah satu penyerang paling mematikan di Eropa, sehingga wajar jika publik berharap dampaknya terasa instan. Namun, sejauh ini, adaptasinya di London utara belum berjalan mulus.
Musim lalu, Gyokeres tampil luar biasa bersama Sporting Club dan masuk jajaran striker paling produktif di sepak bola Eropa.
Performanya itu membuat banyak klub besar kepincut, sebelum Arsenal akhirnya berhasil mengamankan jasanya. Kedatangannya ke Emirates kala itu dipandang sebagai pernyataan serius bahwa Arsenal ingin naik level.
Banyak yang percaya Gyokeres akan membawa dimensi baru dalam serangan The Gunners: kuat secara fisik, agresif di kotak penalti, dan klinis di depan gawang.
Kenyataannya, harapan itu belum sepenuhnya terwujud. Gol-gol belum mengalir, dan Arsenal terlihat belum mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan sang striker bermain sesuai karakter terbaiknya.
Meski demikian, keyakinan internal klub dikabarkan masih tinggi. Arsenal percaya kualitas Gyokeres tidak hilang begitu saja, dan peningkatan performa hanya soal waktu. Namun, mantan pemain Arsenal, Emmanuel Eboue, melihat akar masalahnya dengan cukup jelas.
Melansir Just Arsenal, menurut Eboue, Gyokeres tidak mendapatkan suplai bola yang cukup dari rekan-rekannya, khususnya para pemain sayap. Ia menilai gaya bermain Arsenal saat ini membuat sang striker terlalu sering terisolasi.
“Saya sering menontonnya ketika dia bermain di Portugal, dan dia adalah striker yang sangat bagus,” ujar Eboue.
Eboue lalu menyoroti kecenderungan para pemain sayap yang terlalu fokus mencetak gol sendiri.
“Dia kuat, tapi masalahnya adalah para pemain sayap tidak cukup sering memanfaatkannya. Mereka semua ingin mencetak gol, tetapi dia adalah seorang striker. Tugasnya adalah mencetak gol.”
Untuk menegaskan poinnya, Eboue mengingat kembali filosofi sederhana yang dulu ditanamkan di Arsenal.
