
Yuran Fernandes (tengah). (Dok. Antara)
JawaPos.com — Mengintip potensi reuni Yuran Fernandes bersama Bernardo Tavares di Persebaya Surabaya menjadi topik yang kian menghangat seiring mendekatnya bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026. Isu ini bukan sekadar kabar perpindahan pemain, melainkan cerita tentang pencarian ulang identitas seorang bek yang pernah begitu dominan.
Nama Yuran Fernandes selama bertahun-tahun identik dengan kekuatan dan dominasi.
Di PSM Makassar, ia dikenal sebagai bek yang nyaris tak tersentuh di duel udara, pemimpin lini belakang, sekaligus ancaman nyata dalam situasi bola mati.
Tak sedikit gol Juku Eja lahir dari sundulan kepalanya, menjadikan area kotak penalti lawan sebagai “wilayah kekuasaan” Yuran. Reputasi itu membuatnya dipandang sebagai salah satu bek asing paling berpengaruh di liga.
Namun citra tersebut mulai terkikis dalam beberapa pekan terakhir.
Kekalahan PSM Makassar 1-2 dari Borneo FC di Stadion Segiri menjadi titik sorot menurunnya performa Yuran, terutama pada aspek duel udara dan stamina bertahan.
Ironisnya, dua gol Vinicius yang membalikkan keadaan lahir dari skenario yang selama ini menjadi keunggulan Yuran. Dari situasi crossing dan duel udara, bek yang biasanya superior justru tampak kehilangan kontrol.
Pada menit ke-68, Yuran kalah timing dan adu badan saat mengawal Vinicius hingga sundulan keras lawan menyamakan skor.
Pola identik terulang di menit ke-87, umpan silang kembali datang, duel udara kembali kalah, dan gol pun tercipta.
Dua momen krusial dengan kesalahan serupa menjadi alarm keras. Bagi bek yang reputasinya dibangun dari dominasi udara, kegagalan ini lebih dari sekadar kesalahan teknis biasa.
Sorotan lain mengarah pada stamina dan reaksi bertahan. Dalam dua duel penentuan tersebut, lompatan Yuran tak setinggi biasanya dan antisipasinya datang sepersekian detik lebih lambat.
Pertanyaan pun muncul tentang penyebabnya, mulai dari kelelahan, adaptasi taktik, hingga sinyal awal penurunan performa. Isu ini relevan karena nama Yuran masih berada dalam radar Timnas Tanjung Verde menuju Piala Dunia 2026.
Di level internasional, margin kesalahan jauh lebih sempit. Duel udara dalam kualifikasi Afrika atau putaran final Piala Dunia tak memberi ruang bagi bek yang kalah dua kali dalam skema serupa.
Perubahan pendekatan bermain PSM sejak kedatangan Tomas Trucha juga memberi dampak signifikan.
