
Persebaya Surabaya menjadi satu-satunya wakil Jawa Timur yang masih bertahan di papan tengah klasemen Super League 20252026. (Persebaya)
JawaPos.com - Performa Persebaya Surabaya menjadi sorotan setelah harus turun ke posisi 7 klasemen sementara Super League 2025/2026.
Tren negatif dalam lima laga terakhir menjadi alarm serius bagi tim yang hanya meraih satu kemenangan, sementara sisanya berakhir dengan hasil yang kurang memuaskan.
Pelatih Bernardo Tavares menilai penurunan performa ini tidak terlepas dari berkurangnya persaingan di dalam skuad. Badai cedera yang melanda sejumlah pemain membuat intensitas latihan menurun, sekaligus berdampak pada motivasi para pemain di lapangan.
“Hal-hal ini hanya dapat kita tingkatkan di masa depan jika kita memiliki persaingan di dalam skuad,” kata pelatih asal Portugal itu.
Menurutnya, kompetisi sehat di dalam tim merupakan elemen penting untuk menjaga performa tetap konsisten. Dia menegaskan, setiap pemain harus merasa posisinya tidak aman jika tidak memberikan kemampuan terbaik.
“Sangat penting bagi para pemain yang berlatih untuk merasa bahwa jika saya tidak melakukan 200% dalam latihan dan dalam pertandingan, saya akan kehilangan tempat utama saya di tim utama,” ujar Bernardo Tavares.
Baca Juga:Peluang Persebaya Surabaya Raih 15 Poin pada April, Shin Sang-gyu Terus Lakukan Persiapan Fisik
Situasi yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Banyaknya pemain yang absen membuat pilihan semakin terbatas. Rotasi pemain tidak berjalan optimal, sehingga keseimbangan tim ikut terganggu.
Dampaknya terlihat jelas, termasuk di lini belakang yang menjadi lebih rentan. Kombinasi absennya pemain kunci dan minimnya variasi strategi membuat Persebaya kesulitan menjaga konsistensi permainan.
“Tetapi jika kita memiliki banyak pemain cedera dan kita tidak memiliki cukup pemain untuk mengikuti kompetisi ini, maka akan sulit,” pungkasnya.
