Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Oktober 2025, 06.19 WIB

Cak Imin Ziarah ke Makam Syekh Mahmud di Barus Jelang Hari Santri: Titik Nol Peradaban Islam Nusantara

Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin usai melakukan ziarah ke kompleks makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi, Barus, Tapanuli Tengah, Selasa malam (21/10). (Muhammad Ridwan/JawaPos.com) - Image

Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin usai melakukan ziarah ke kompleks makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi, Barus, Tapanuli Tengah, Selasa malam (21/10). (Muhammad Ridwan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Menjelang puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin melakukan ziarah ke kompleks makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi, Barus, Tapanuli Tengah, Selasa malam (21/10).

Syekh Mahmud dikenal sebagai salah satu ulama besar penyebar Islam pertama di Nusantara. Makam Syekh Mahmud terletak di atas bukit yang berlokasi di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Barus sendiri diyakini sebagai titik nol peradaban Islam di Nusantara, tempat awal berkembangnya ajaran Islam sebelum menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, peringatan Hari Santri tahun ini memiliki makna istimewa, karena dimulai dari tempat bersejarah yang menjadi akar penyebaran Islam dan tradisi pesantren di Indonesia.

“Hari Santri kali ini kita mulai dari titik nol, di mana dari situlah ajaran, doktrin, dan nilai menjadi sistem kehidupan sosial-keagamaan, menjadi sistem pendidikan, menjadi kekuatan pesantren dan masyarakat sekitarnya, menjadi komunitas santri,” kata Cak Imin di sela ziarah.

Ia menegaskan, perjalanan panjang santri dalam sejarah bangsa tidak terlepas dari peran besar ulama dan pesantren yang telah melahirkan kekuatan sosial dan spiritual luar biasa.

“Akhirnya setelah kemerdekaan, di bawah kepemimpinan para ulama, khususnya fatwa Mbah Hasyim Asy’ary, dilakukanlah Resolusi Jihad. Sehingga umat Islam percaya diri, yakin, meski tanpa senjata yang memadai, bisa mengusir penjajah,” ungkapnya.

Ia menegaskan, keberanian dan semangat perjuangan para santri menjadi energi besar bagi bangsa Indonesia.

“Keberanian untuk syahid mengusir penjajah itulah yang membuat energi luar biasa, dengan bambu runcing, dengan pertempuran apa adanya, dengan pengorbanan nyawa dan keberanian, yang membuat Indonesia bertahan dan akhirnya merdeka,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ketua Umum DPP PKB itu menekankan, semangat perjuangan tersebut yang kemudian melahirkan momentum bersejarah penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

“Semangat itulah yang akhirnya menjadi momentum ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri, di mana embrio pertempuran 22 Oktober itu akhirnya menang di 5 November, yang kemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan Nasional,” pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore