Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Januari 2026, 20.48 WIB

Kronologi Versi Siswa: Alasan di Balik Pengeroyokan Guru di Jambi yang Viral, Agus Enggan Minta Maaf

Ilustrasi pengeroyokan dan penganiayaan. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kasus pengeroyokan guru oleh murid di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, tengah menjadi sorotan publik. Setelah videonya viral, kini muncul pengakuan dari salah satu siswa yang terlibat, M Lutfi P.

Lutfi membeberkan kronologi pengeroyokan versi siswa yang dipicu oleh kesalahpahaman di dalam kelas hingga berujung pada tindakan fisik.

Bermula dari Teriakan "Woi" dan Panggilan "Prince"

Lutfi menceritakan, kejadian bermula saat suasana kelas sedang gaduh menjelang jam pelajaran berakhir. Lutfi mengaku berteriak meminta teman-temannya diam, namun di saat bersamaan, sang guru Agus Saputra, sedang melintas di depan kelas.

Agus yang merasa tersinggung langsung masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang berteriak.

"Saya tidak tahu bahwa beliau ada lewat depan kelas itu. Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung nanya, 'Siapa yang bilang woi?' Terus saya jawab, 'Saya, Prince,' kayak gitu. Terus spontan saya ke depan langsung ditampar," ungkap Lutfi.

Uniknya, panggilan "Prince" ternyata merupakan permintaan sang guru sendiri. Menurut Lutfi, Agus tidak ingin disapa dengan panggilan formal.

"Kalau dipanggil 'Bapak' marah dia. Enggak mau dipanggil Bapak, maunya dipanggil Prince," tambahnya.

Pemicu Pengeroyokan: Dugaan Penghinaan Orang Tua

Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf dari Agus Saputra. Hal ini didasari atas dugaan penghinaan yang dilakukan sang guru terhadap orang tua salah satu murid.

Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan pihak Komite sekolah, ketegangan justru memuncak di area kantor sekolah. Lutfi menyebut sikap sang guru yang seolah mengejek siswa menjadi pemantik amarah massa.

"Beliau (diminta) minta maaf, tetapi beliau tidak mau. Dibantu oleh guru yang lain untuk ngomong ke beliau bahwa kami mau beliau minta maaf, disuruh ke depan dia. Pas dia mau pidato di depan itu, yang dibahasnya lain, bukan yang tentang untuk minta maaf itu," jelas Lutfi.

Detik-detik Adu Jotos di Kantor Sekolah

Lutfi menceritakan bahwa saat dibawa ke ruangan oleh pihak Komite, sang guru justru menunjukkan gestur yang memancing emosi para siswa yang berkumpul.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore