
Kolaborasi Apkasi dan Apeksi menjadi kekuatan besar yang mampu menjangkau 514 kabupaten dan kota melawan penyalahgunaan narkotika. (Istimewa).
JawaPos.com - Gerakan pemberantasan narkotika terus digalakkan pemerintah baik di tingkat pusat maupu daerah. Terbaru, Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) resmi menginisiasi gerakan nasional "Indonesia Bersinar" (Bersih Dari Narkoba) sebagai bagian dari upaya membentengi ketahanan bangsa dari ancaman narkotika.
Komitmen ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) strategis antara Apkasi, Apeksi, dan Pemerintah Kabupaten Lahat dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) di GOR Bukit Tunjuk, Kabupaten Lahat, Kamis (22/1).
Ketua Umum Apkasi, Bursah Zarnubi, menyatakan bahwa deklarasi ini bukan sekadar seremonial administratif, melainkan sebuah panggilan darurat atas kondisi lapangan. Menurutnya, peredaran gelap narkotika kini telah bertransformasi menjadi ancaman asimetris yang menyerang langsung ke jantung pertahanan keluarga di Indonesia.
"Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara biasa. Gerakan Indonesia Bersinar diawali dari sebuah keprihatinan bahwa bahaya narkoba saat ini ibaratnya sudah ada di depan halaman rumah kita sendiri. Ini adalah musuh yang tidak terlihat namun dampaknya mematikan bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, Apkasi bersama Apeksi merasa terpanggil untuk memulai gerakan nasional ini secara masif," tegas Bursah Zarnubi saat memberikan sambutan.
Lebih jauh, Bursah yang juga merupakan Bupati Lahat ini menekankan bahwa inisiatif Apkasi ini merupakan langkah konkret pemerintah daerah dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Khususnya pada poin ke-7 yang menekankan pada penguatan sumber daya manusia (SDM) serta poin ke-6 mengenai pembangunan dari desa.
"Presiden kita telah memberikan peta jalan yang jelas: jika Indonesia ingin melesat maju, syarat utamanya adalah bangsa yang sehat mental dan spiritual. Kita ditargetkan menguasai science, technology, engineering, dan mathematics atau disingkat STEM. Namun, semua target tersebut mustahil tercapai jika daya pikir inovatif dan kreatif generasi muda kita dirusak oleh kecanduan narkoba," jelas Bursah dengan nada lugas.
Bursah menambahkan bahwa kolaborasi antara Apkasi dan Apeksi merupakan kekuatan besar yang mampu menjangkau 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. "Ini adalah milestone. Kami ingin memastikan bahwa perang melawan narkoba menjadi isu strategis yang diseriusi oleh seluruh kepala daerah sebagai wujud tanggung jawab menjaga amanah Presiden dan melindungi rakyat dari kemiskinan sistemik akibat narkotika."
Apresiasi tinggi datang dari Kepala BNN, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, yang memberikan penghargaan khusus kepada Bupati Lahat atas perannya sebagai inisiator nasional deklarasi ini. Komjen Suyudi memuji langkah nyata Pemkab Lahat yang telah mengoperasikan kantor Satuan Kerja (Satker) P4GN sebagai pelopor bagi daerah lain.
"Saat ini, dari 514 kabupaten/kota, baru tersedia 182 Satker. Melalui MoU dengan Apkasi dan Apeksi hari ini, kami menargetkan adanya akselerasi penguatan Satker di seluruh Indonesia. Kita tidak boleh menganggap remeh. Ancaman narkoba kini bermutasi dalam bentuk New Psychoactive Substances atau NPS. Di tingkat global terdapat 1.386 zat, dan 175 di antaranya sudah masuk ke Indonesia," papar Komjen Suyudi.
BNN juga mengingatkan bahwa target utama peredaran narkoba saat ini adalah generasi muda usia produktif (16-35 tahun). Narkoba kini dikemas secara kamuflase dalam bentuk liquid vape hingga minuman sachet. "Anak muda harus dibekali literasi narkotika yang kuat dan pondasi agama yang kokoh agar memiliki ketahanan intrinsik terhadap rayuan barang haram ini," imbuhnya.
