Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Februari 2026, 19.38 WIB

Gubernur NTT "Bersyukur" Kasus Bunuh Diri Anak di Ngada Ramai Sebelum Rakornas: Kalau Pak Prabowo Tahu Mati Kita Dicincang

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat memberi sambutan dalam peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2) kemarin (YouTube Universitas Citra Bangsa) - Image

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat memberi sambutan dalam peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2) kemarin (YouTube Universitas Citra Bangsa)

JawaPos.com - Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena sempat mengaku akan mati dicincang jika kejadian anak yang bunuh diri di Ngada diketahui Presiden Prabowo Subianto saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 Senin, (2/2) lalu.

Mulanya, dia menyampaikan banyak pesan yang masuk ke gawainya dari menteri hingga anggota DPR mempertanyakan kematian YBS, 10, anak SD yang bunuh diri karena diduga masalah kemiskinan esktrem.

Dia mengaku lidahnya kelu karena terkejut dan bingung harus menjawab bagaimana. Dalam keadaan itu, Melkiades merasa "mending" kejadian itu baru diketahui viral seusai Rakornas lalu bersama Prabowo.

"Syukur kejadian ini, Pak Wali, Bapak-Ibu, kita-kita menghadiri di Jakarta ini, syukur ini diketahui publik setelah kita rakornas. Bayangkan itu waktu kejadian, Pak Prabowo tahu pasti mati kita dicincang waktu kemarin itu," tuturnya saat memberi sambutan dalam peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2) kemarin.

Sebab, politisi Golkar itu mengungkap bahwa Prabowo selalu marah dengan kondisi kemiskinan yang hinggs membuat orang meninggal dunia.

"Pak Prabowo marah model-model begini ini," ucapnya.

"Ini kan kita tidak tahu apa yang salah, tapi berarti pranata sosial kita berarti gagal urus model begini. Pemerintahan kita juga gagal, provinsi sama, kabupaten Ngada juga sama. Kita punya pranata agama juga gagal. Pranata budaya juga gagal, sampai ada orang mati karena miskin begini," pungkas Melkiades.

Sebelumnya, duka mendalam menyelimuti warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS, 10, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh.

Peristiwa pilu ini bermula dari permintaan sederhana yang tak mampu dipenuhi. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tak dapat mengabulkan permintaan tersebut.

Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menuturkan bahwa YBS dikenal sebagai anak pendiam, sopan, dan rajin belajar. Meski hidup dalam kondisi serba kekurangan, YBS jarang menunjukkan tanda-tanda kesedihan mendalam di hadapan warga sekitar.

“Menurut keterangan tetangga, dia anak yang baik dan rajin sekolah. Tidak ada tanda-tanda yang mencolok bahwa dia menyimpan beban berat,” ujar Bernardus seperti dikutip dari Radar Pati, Rabu (4/2).

Ayah YBS diketahui telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.

Pada Kamis pagi, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah neneknya. Padahal pagi itu ia seharusnya berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, tubuh YBS ditemukan oleh warga yang tengah menggembalakan kerbau di sekitar lokasi.

Sang ibu, MGT, 47, mengungkapkan bahwa YBS menginap di rumahnya pada malam sebelum kejadian. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA, YBS diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.

“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore