JawaPos.com - Nahdlatul Ulama (NU) dinilai tengah dihadapkan dengan tantangan zaman yang semakin kompleks. Seiring usianya yang telah melewati satu abad, perjuangan ormas terbesar di Indonesia ini menunjukan tantangan yang semakin berat.
Jika pada abad pertama NU berhasil meneguhkan diri sebagai jangkar Islam lil ‘alamin yang mengawal tradisi Nusantara berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), maka pada abad kedua NU dituntut mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi, dinamika politik nasional-global, serta perubahan sosial yang sangat cepat.
“NU kini berada di persimpangan antara mempertahankan warisan kultural yang disimbolkan oleh sarung dan kitab kuning, dan kebutuhan untuk bertransformasi menghadapi realitas zaman. NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Tradisi harus tetap dijaga, tetapi visi, strategi, dan cara kerja harus diperbarui agar NU benar-benar hadir sebagai pelayan umat di abad modern,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Imam Jazuli kepada wartawan, Rabu (11/2).
Dalam aspek politik nasional, Imam menilai perlu ada perbaikan hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). PKB dinilai sebagai intrumen yang bisa digunakan untuk kepentingan nahdliyin, sebab partai tersebut lahir dari rahim NU.
Elite PKB dan PBNU tidak boleh diwarnai konflik kepentingan masing-masing. Apalagi jelang Pemilu 2029, kepentingan politik akan semakin jelas.
“Atas nama Khittah 1926, sebagian elite NU justru bersikap terlalu menjauh dari PKB. Di sisi lain, PKB terkadang lebih sibuk dengan agenda elektoral daripada agenda keberpihakan pada umat. NU perlu kembali berperan sebagai pengawal moral tanpa bersikap antipati terhadap PKB sebagai wadah aspirasi politik warga NU,” imbuhnya.
Di sisi lain, NU juga perlu meningkatkan keahlian digital. Dakwah pun sekarang sudah menjarah ke era yang lebih modern. Perlu ada perubahan agar ilmu yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
“Karenanya, NU perlu proaktif dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi dan Aswaja An-Nahdliyah. Penguatan literasi digital di kalangan nahdliyin dan pengembangan konten digital yang menarik menjadi tantangan untuk melawan narasi ekstremisme di ruang siber," ujarnya
"Secara keilmuan dan sanad, NU harus melahirkan Ulama Digital yang tidak hanya mahir bahtsul masail secara tekstual, tetapi juga cakap bahtsul masa'il kontemporer di dunia maya, tranformasi dakwah digital ini adalah keniscayaan,” lanjutnya.
Imam mengungkapkan perlunya revitalisasi format dakwah. Dakwah NU selama abad pertama sering mengandalkan panggung dan gebyar seremonial, serta banyak diisi dengan agenda ritual tradisi. Perlu adanya perubahan sosial dan teknologi yang lebih mengarah pada peningkatan kualitas hidup yang lebih baik.
“Selain melestarikan tradisi, dakwah juga harus fokus pada pemberdayaan umat, edukasi yang sifatnya mencerahkan, dan solusi terhadap persoalan kontemporer. Pemanfaatan platform digital di era kecerdasan buatan untuk menyebarkan konten dakwah yang relevan dan mudah dipahami menjadi penting untuk menjangkau generasi muda,” ungkapnya.