Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Februari 2026, 16.20 WIB

Banjir di Grobogan Jateng Terus Meluas, 9000 Kepala Keluarga Terpaksa Mengungsi

Penampakan banjir di Grobogan, Jawa Tengah. (BPBD Kabupaten Grobogan) - Image

Penampakan banjir di Grobogan, Jawa Tengah. (BPBD Kabupaten Grobogan)

JawaPos.com - Angka korban terdampak banjir di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng) terus bertambah. Sampai Senin malam (16/2), sebanyak sembilan ribu kepala keluarga terpaksa mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa penyebab banjir tersebut pergerakan debit air kiriman dari wilayah hulu ke hilir.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, laporan dari beberapa kecamatan di wilayah hulu mencatat penurunan tinggi genangan air hingga surut. Sementara di wilayah hilir, tinggi muka air justru semakin naik. Dia pun menjelaskan bahwa banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Grobogan pada Minggu malam (15/2).

”Selain curah hujan lokal, banjir juga dipicu kiriman air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, Sungai Tuntang, serta Sungai Lusi yang menyebabkan sungai tidak mampu menampung debit air dan meluap ke permukiman warga,” ungkap dia pada Selasa (17/2).

Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 42 desa di sepuluh kecamatan yang terdampak banjir. Petugas juga melaporkan satu rumah rusak berat. Selain itu, terdapat sejumlah titik tanggul jebol di Sungai Cabean, Sungai Jajar Baru, Sungai Jratun, serta dua titik tanggul Sungai Tuntang yang berada di Desa Tinanding, Kecamatan Godong.

”Wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Kedungjati, Tegowanu, Gubug, Purwodadi, Karangrayung, Geyer, Toroh, Pulokulon, Penawangan, dan Godong. Di Kecamatan Kedungjati, banjir yang sebelumnya menggenangi tujuh desa seperti Klitikan, Kedungjati, Wates, Jumo, Deras, Kalimaro, dan Padas dengan ketinggian 20-40 sentimeter saat ini telah surut,” jelasnya.

Sementara di Kecamatan Tegowanu, Desa Tajemsari tercatat 171 kepala keluarga terdampak dan masih tergenang, di Desa Sukorejo 600 kepala keluarga dan Kebonagung 526 kepala keluarga serta 102 hektare sawah berangsur surut. Di Kecamatan Purwodadi, genangan masih terjadi di Kelurahan Purwodadi berdampak pada 584 kepala keluarga, dan Kelurahan Kalongan berdampak pada 1.180 kepala keluarga dengan tinggi muka air sebelumnya mencapai sekitar 1 meter.

”Selanjutnya di Kecamatan Toroh sedikitnya 200 kepala keluarga terdampak di Desa Tambirejo, serta ratusan kepala keluarga lainnya di Desa Katong, Sugihan, Depok, Boloh, Tunggak, dan desa lain, dengan kondisi sebagian besar telah surut.” ungkap Abdul Muhari.

Lokasi lain yang juga terdampak adalah Desa Tinanding, Kecamatan Godong, banjir masih menggenangi permukiman akibat jebolan tanggul Sungai Tuntang dengan ketinggian air 20–50 sentimeter. Berdasar pemantauan tinggi muka air pada Senin sore, elevasi Sungai Lusi di Bendung Sedadi tercatat 26,26 mdpl dengan tren menurun, masih berada di bawah status siaga.

Namun di Pos Menduran, tinggi muka air menunjukkan tren kenaikan dengan elevasi 10,08 meter dan debit 557,740 m kubik per detik. Adapun di Bendung Klambu, elevasi hulu tercatat 16,33 mdpl dan debit 766,628 meter kubik per detik. Sebagai upaya penanganan darurat, BPBD Kabupaten Grobogan bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan perangkat daerah telah melakukan pemantauan intensif.

”Selain itu, dilakukan distribusi bantuan logistik dan kasur lapangan di Kecamatan Gubug, Tegowanu, Kelurahan Kalongan, Kelurahan Purwodadi, serta Desa Jumo dan Desa Tajemsari. Kerja bakti peninggian tanggul Sungai Tuntang juga dilaksanakan di Desa Trisari dan Desa Gubug Kecamatan Gubug untuk mencegah meluasnya genangan,” pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore