COO Danantara Indonesia Dony Oskaria berbicara saat Pers Danantara Indonesia Dan Garuda, di Garuda Sentra Operasi, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (13/11/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kondisi ekonomi di Sumatera Barat (Sumbar) tidak lebih baik dibanding provinsi lain di Pulau Sumatera, apalagi disandingkan dengan provinsi di Pulau Jawa. Pertumbuhan ekonomi di provinsi itu hanya 3,3 persen. Sementara inflasi 6 persen.
Kondisi itu mendapat sorotan dari Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Dony Oskaria saat pulang kampung pada Jumat (20/2). Putra Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar, itu meminta para pemimpin di Sumbar itu memikirkan pertumbuhan ekonomi.
"Bayangkan PDRB Jambi tinggi dari Sumbar,” kata COO Danantara itu. Artinya, pendapatan tiap orang di Jambi lebih tinggi dari orang Sumbar. Angka menunjukkan bahwa pendapatan per kapita Sumbar Rp 54,33 juta. Sedangkan Jambi, 79,8 juta/orang.
"Salah satu obatnya membangun industri. Keadaan sudah buruk. Pengeluaran dua kali lipat pendapatan,” kata Dony Oskaria saat berada di kawasan pabrik PT Semen Padang, Jumat (20/2).
Pada sisi lain, Dony Oskaria mengaku sangat sedih dan miris melihat fenomena peredaran narkoba dan LGBT di Sumbar. Belum lagi kebersihan. Sanitasi Sumbar terburuk kedua di Indonesia di atas Papua. Narkoba merayap sampai ke desa-desa.
“Ini kegalauan saya yang lama sekali saya tahan. Sumbar perlu perbaikan serius,” kata mantan Wakil Dirut PT Garuda Indonesia itu.
Ketika mengunjungi Pelindo di Teluk Bayur, Dony baru tahu ternyata kapal-kapal yang datang kosong, pergi kalau sudah ada muatan atau datang membawa muatan, tetapi kembali dalam kondisi kosong. "Ini berkontribusi pada mahalnya harga komoditas Sumbar di tempat lain," tegasnya.
Selain itu, Dony sempat menyinggung soal tanah ulayat. Tanah itu selain kondisinya telantar, juga belum memberikan dampak ekonomi pada anak kemenakan. Ia berharap ekonomi Sumbar bisa bangkit segera. Langkahnya tidak cukup dengan berdoa, tapi mesti dikerjakan.
