JawaPos.com - Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan mengungkap data kenaikan permintaan produk daging olahan. Angkanya cukup mengagetkan mencapai 6-10 persen per tahun dengan varian sosis dan nugget menjadi yang paling banyak dikonsumsi.
Dosen Program Studi Gizi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Ratu Diah Koerniawati mengatakan, tingginya konsumsi daging olahan dipengaruhi salah satunya oleh gaya hidup. Sebab, makanan jenis tersebut lebih mudah dibuat tanpa memakan waktu lama.
“Secara langsung, konsumsi daging olahan seperti nugget dan sosis beberapa tahun terakhir terlihat semakin meningkat. Hal ini bisa saja disebabkan karena adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang ingin serba cepat dan instan,” ungkap Nia, Minggu (12/10).
Nia menyampaikan, survei JakPat tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi pangan olahan seperti nugget dan sosis. Makanan itu dipilih responden dengan alasan praktis, mudah diolah, dan terjangkau.
Meski begitu, masyarakat dihadapkan dengan dilema keterbatasan produk olahan daging yang benar-benar aman, tanpa bahan tambahan berbahaya, serta ramah bagi anak-anak dan keluarga.
Terlebih, protein di dalam kandungan daging memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Nutrisi ini berfungsi membangun dan memperbaiki sel tubuh, menyediakan asam amino esensial yang membantu perkembangan otak dan fungsi kognitif, serta membentuk antibodi dan komponen sistem kekebalan tubuh.
Protein juga merupakan sumber zat besi dan vitamin B12 yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh dan energi anak. “Oleh karena itu, kebutuhan asupan protein harus terpenuhi dengan mengonsumsi pangan sumber protein terutama protein hewani, antara lain daging sapi, daging ayam, daging ikan, dan telur,” tambah Nia.
Melihat fenomena itu, perempuan asal Hokkaido, Jepang bernama Ai Imai berupaya membantu peningkatan kebutuhan gizi anak. Meskipun mengkonsumsi daging olahan, namun tidak membahayakan anak.
"Anak di daerah belum memahami apa itu makanan bergizi dan bagaimana memilih bahan makanan yang baik. Dari situlah semangat Bukit Foods bermula,” ungkap Ai Imai.
Perempuan yang sudah menetap di Bali sejak 2007 ini menyadari kebutuhan para ibu agar anak-anak dapat mengonsumsi makanan sehat dan aman. Oleh karena itu dia menciptakan produk tanpa bahan pengawet, pewarna, serta MSG buatan. Salah satunya yakni sosis sehat dengan kandungan daging mencapai 90,51 persen, sementara sisanya terdiri dari bumbu-bumbu alami sederhana.
Kualitas menjadi prinsip utama dalam setiap tahap produksi makanan. Seluruh proses dilakukan dengan kontrol suhu tidak lebih dari 10 derajat Celcius demi menjaga kebersihan dan kesegaran bahan baku. Sebagian besar bahan baku berasal dari kebun organik milik Bukit Foods di Badung, Bali, yang ditanam tanpa pestisida kimia, melainkan menggunakan pupuk alami.
Produk sayuran seperti tomat, basil, dan berbagai rempah ditanam secara mandiri, sementara bahan lainnya diperoleh dari petani lokal yang menerapkan praktik pertanian berkelanjutan.