Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Oktober 2025, 23.32 WIB

Menuju Indonesia Maju 2045, Ekonom Soroti Pentingnya Sektor Manufaktur

Contoh perusahaan manufaktur (Dok. Fakultas Teknik UMSU) - Image

Contoh perusahaan manufaktur (Dok. Fakultas Teknik UMSU)

JawaPos.com - Pemerintah Indonesia bercita-cita ingin menjadi negara maju pada 2045 nanti. Bahkan, pemerintah bercita-cita agar pertumbuhan ekonomi Indonesia naik menjadi 8 persen.

Melihat hal ini, ekonom sekaligus Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Raden Pardede mengatakan, hal ini baru bisa terwujud jika memang pemerintah Indonesia mampu membangun pondasi yang kuat, salah satunya Indonesia tak bisa hanya bergantung pada komoditas.

“Ini adalah kata-kata yang saya bagikan dengan berbagai negara lain. Negara lain ini, contohnya adalah seperti Malaysia, Vietnam, China, yang lain-lain itu. Mereka tidak terlalu tergantung kepada komoditas. Bahwa gimana? Kita tidak bisa tergantung kepada komoditas. Kita harus memanfaatkan sektor manufaktur. Sektor manufaktur dan jasa, itu intinya,” kata Raden di Jakarta, Senin (20/10).

Menurutnya, jika dibandingkan dengan negara lain, sejatinya Indonesia tak buruk. Hanya saja, jika ingin mencapai cita-cita 2045 maka pemerintah Indonesia harus bekerja lebih keras lagi.

“Jadi kita dibandingkan dengan negara lain, Bapak-Bapak dan Ibu. We are not bad at all. Kita bukan yang paling dibawah,” ungkap dia.

Dia menekankan, banyak yang harus diperbaiki oleh pemerintah untuk mencapai misi 2045, salah satunya memperbaiki Incremental Capital Output Ratio (ICOR). ICOR sendiri adalah indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur efisiensi investasi dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

“ICOR itu adalah bagaimana kita menggunakan investasi lebih efisien, lebih efektif. Kalau mesinnya dia makin bagus, maka penggunaan daripada bahan bakar itu menjadi lebih efisien. Nah itulah contohnya disitu. Bagaimana seperti Vietnam itu lebih cepat dari kita. Itu yang kita harus perbaiki,” ungkap dia.

Selain itu, dia turut menyoroti Gross National Income (GNI) per Capita yang dimiliki Indonesia atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) periode 2015-2025 yang mencapai 3,8 persen. Angka ini lebih rendah dari Vietnam yang mencapai angka 6,2 persen.

Bahkan, Indonesia dimintanya untuk belajar dengan negara lain seperti halnya progres teknologi dan keterbukaan. Menurutnya, Indonesia juga harus memanfaatkan momentum untuk memperbaiki diri lantaran momentum tak akan datang dua kali.

“Momentum itu tidak datang terus-menerus. Jadi tiba saatnya momentumnya pas, contohnya EU-CEPA ini. Kita harus benar-benar manfaatkan. Karena mungkin 2-3 tahun lagi gak ada lagi ini. Jadi tahunnya tahun ini kita harus manfaatkan itu sampai tahun depan,” jelasnya. 

Bahkan, dia meminta pemerintah untuk tidak mengandalkan sumber daya alam. Sebab, negara maju hanya mengandalkannya sebagai bonus, bukan hal utama.

Berbicara kondisi ekonomi saat ini, menurutnya, Indonesia masih bergantung pada pertanian, agrikultur, minyak bumi, batu bara hingga CPO. Oleh karenanya, dia menegaskan, bahwa Indonesia diharuskan menguatkan “mesin ekonomi” yang dimiliki melalui sektor manufaktur dan jasa.

“Jadi seperti kita berkompetisi. Gak bisa kita menganggap bahwa hanya diri kita. Kita berkompetisi dengan kapal-kapal negara lain. Kapal Indonesia berkompetisi dengan negara lain. Kita lihat Cina, Vietnam, negara-negara di Asia. Ini adalah tempat kita untuk kita, kalau kita tidak berkompetisi, kita tidak tahu dimana kita,” ungkap dia.

“Jadi kita harus ikut berlomba dengan mereka, supaya kita tahu, eh kita masih di belakang ini. Jangan langsung kita patah hati kita di belakang. Kita harus bekerja keras untuk berlomba mereka. Bisa lebih cepat dari mereka,” tukasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore