Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Oktober 2025, 02.05 WIB

Pemurnian Air Limbah Terintergasi Panel Surya: Langkah Hijau Inovator IT PLN Wujudkan Masa Depan Berkelanjutan

Rachmad Ardhianto (35), Inovator sekaligus Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi PLN/(Foto: Dimas Choirul/Jawapos.com) - Image

Rachmad Ardhianto (35), Inovator sekaligus Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi PLN/(Foto: Dimas Choirul/Jawapos.com)

JawaPos.com — Di balik tubuh mesin berwarna hijau-putih, kilau logam reaktor memantulkan cahaya sore dari balik jendela, di sudut ruangan laboratorium, Rachmad Ardhianto (35), terlihat sibuk mengamati air limbah. Dengan tatapan penuh fokus, Ia menunjukkan proses pengolahan air limbah tersebut berubah menjadi bening.

Bagi banyak orang, air limbah adalah sisa buangan yang kotor dan berbahaya. Tapi bagi Rachmad, air limbah ibarat sumber daya yang belum “dipanen”.

Melalui inovasi pemurnian air limbah yang berbasis proses elektrokimia dan energi surya, pria yang juga merupakan Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Perusahaan Listrik Negara (IT PLN) ini berupaya mengubah paradigma pengelolaan limbah menjadi bagian dari ekonomi sirkular yang efisien dan ramah lingkungan.

“Awalnya karena proses elektrokimia itu basisnya listrik, dan selama ini sumbernya masih dari energi fosil. Saya berpikir bagaimana kalau energi itu diganti dengan sumber nonfosil, seperti solar PV,” ujar Rachmad saat ditemui Jawapos.com di Laboratorium Pengelohan Limbah Sampah, IT PLN, Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (20/10).

Ide itu lalu berkembang menjadi riset bertahun-tahun. Dengan sistem off-grid solar PV, Rachmad memadukannya dalam teknologi elektrokimia berbasis elektrokoagulasi untuk mengolah air limbah industri kaya nutrien seperti fosfat dan amonium—unsur penting bagi pertumbuhan tanaman.

“Kalau kita menggunakan kimia kan rata-rata dampaknya ke lingkungan sangat besar. Kemudian sludge-nya juga cukup banyak juga, beban proses pengolahan efisiensi juga sangat rendah dan cost terutama yang sangat mahal kan. Nah, kita berpikir untuk mengembangkan elektrokimia dengan tujuan tadi, untuk memurahkan cost sekaligus untuk mendapatkan hasil recovery yang bagus kayak gitu," jelas pria asal Jambi tersebut.

Dari Laboratorium ke Industri
Penelitian itu bukan sekadar eksperimen di laboratorium kampus saja. Rachmad bercerita, sejak 2019, Ia dan rekannya telah menguji penerapan teknologi ini di berbagai industri. Hasilnya mencengangkan. Teknologi ini mampu mengurangi lumpur hingga 50 persen dan menekan biaya operasional sampai 50 persen lebih murah dibanding metode konvensional.

“Nah, dengan potensi itu kita berpikir bahwa oh ternyata teknologi ini bisa digunakan untuk recovery nih, recovery material gitu,” ungkapnya.

Rachmad Ardhianto (35), Inovator sekaligus Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi PLN/(Foto: Dimas Choirul/Jawapos.com)

Reaktornya sendiri menggunakan sistem yang telah dipatenkan yaitu tubular reactor dengan konfigurasi multi-rod helical system.

“Kalau untuk struvite berbasis magnesium, kita pakai elektroda magnesium menghasilkan MAP (Magnesium Ammonium Phosphate). Kalau berbasis besi, hasilnya FAP (Ferrous Ammonium Phosphate). Nah itu dua macam struvite yang dibutuhkan sebagai unsur hara tanaman,” terang Rachmad.

Hemat Energi, Dorong Kemandirian
Menurut Rachmad, teknologi ini mampu memulihkan fosfat hingga 99 persen hanya dalam waktu kurang dari satu menit, sedangkan unsur amonium mencapai efisiensi di atas 80 persen dengan waktu 30-40 menit. Menariknya, sistem ini dapat diintegrasikan dengan panel surya untuk menekan penggunaan listrik fosil.

“Target saya tidak 100 persen menggunakan energi surya, tapi minimal bisa menghemat 30 persen dari konsumsi energi fosil. Itu sudah cukup menggembirakan,” kata Rachmad.

Meski begitu, ia mengakui masih ada tantangan teknis. Salah satunya adalah ketersediaan DC Rectifier atau power supply yang kompatibel dengan sistem ini. “Selama ini saya masih harus beli dari teman saya di China. Kalau bisa dikembangkan sendiri, TKDN-nya bisa 100 persen Indonesia,” tambahnya.

Di dunia industri, inovasi Rachmad telah digunakan oleh berbagai perusahaan besar, antara lain Resin Plating Technology (RPT) Cibitung, Yamaha Manufacturing Karawang, pabrik gula PDSU Cilegon, hingga beberapa industri makanan.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore