
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar alias Cak Imin di kantor Kemenko PM, Jakarta, Jumat (31/10). (Ridwan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menegaskan pentingnya pembenahan pendidikan nasional sebagai kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Ia menilai, pendidikan harus berorientasi pada pemberdayaan agar lulusan tidak hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja dan menjadi mandiri.
“Karena wacana narasi pemberdayaan masyarakat ini menjadi penting agar memutus mata rantai kemiskinan itu melalui pembenahan pendidikan,” kata Cak Imin di kantor Kemenko PM, Jakarta, Jumat (31/10).
Ia menjelaskan, pendidikan memiliki peran strategis dalam mengubah nasib masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum dan tata kelola pendidikan nasional perlu disusun dengan orientasi pada pemberdayaan dan kemandirian.
“Pendidikan harus menjadi mata rantai memutus kemiskinan. Dengan cara apa? Kurikulum dan tata kelola pendidikan nasional harus mengedepankan pemberdayaan sehingga lulusan-lulusan pendidikan kita link match dengan dunia kerja, link match dengan tantangan-tantangan untuk mandiri dan berdaya,” ujarnya.
Ketua Umum PKB itu tak memungkiri, sistem pendidikan yang selama ini dianggap terlalu teoretis dan tidak terhubung dengan kebutuhan nyata dunia usaha maupun lapangan kerja.
“Kritik kita kepada dunia pendidikan menjadi menara gading yang tidak sambung dengan kebutuhan pasar,” tegasnya.
Ia pun mengusulkan agar dunia industri dan para pelaku ekonomi dilibatkan langsung dalam perumusan kurikulum pendidikan nasional. Menurutnya, pandangan praktis dari mereka yang memahami dunia kerja dapat membantu menciptakan sistem pendidikan yang lebih relevan.
“Salah satu ide menariknya adalah kalau perlu kurikulum tanyakan kepada ekonomi dan dunia industri,” tuturnya.
Tak hanya itu, Cak Imin juga menilai pengalaman para pengusaha sukses bisa menjadi sumber inspirasi dalam penyusunan kurikulum yang lebih aplikatif dan memberdayakan.
“Yang kedua, tanya kepada pengalaman-pengalaman pengusaha sukses. Itu kurikulum yang dibutuhkan,” urainya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan tidak hanya harus memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga membekali peserta didik dengan kemampuan untuk mandiri secara ekonomi. Ia berharap, arah pendidikan Indonesia bisa berubah menjadi lebih berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
“Selain pendidikan-pendidikan yang dibutuhkan, jadi tambahan dari kurikulum pendidikan nasional, kita ingin agar kebutuhan dunia industri yang mau bekerja, kebutuhan pengalaman para pelaku bisnis yang sukses bisa menjadi kurikulum anak didik kita supaya berdaya dan mandiri,” pungkasnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
