Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 November 2025, 23.11 WIB

India Kritis! Konsumsi Minyak Nabati Melejit, Ketergantungan Impor Jadi Risiko Besar

Ilustrasi minyak goreng curah. Dok Antara - Image

Ilustrasi minyak goreng curah. Dok Antara

JawaPos.com - Chairman Asian Palm Oil Alliance (APOA) Atul Chaturvedi menilai bahwa India sedang berada pada titik menentukan dalam upaya memenuhi kebutuhan minyak nabatinya. Dengan konsumsi yang terus bertambah sementara produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi.

Alhasil, India disebut harus mengambil langkah strategis untuk memperkuat kapasitas produksi nasional sekaligus memperdalam kerja sama dengan negara-negara pemasok utama.

India adalah pasar minyak nabati terbesar di dunia, namun sekaligus negara yang paling rentan karena ketergantungan impor mencapai 60%. Ini adalah tantangan besar yang tidak bisa diatasi hanya dengan kebijakan tarif, melainkan melalui upaya peningkatan produksi domestik dan kemitraan regional yang lebih kuat,” ujar Atul Chaturvedi di IPOC 2025, Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11).

Dalam presentasinya, Chaturvedi menjelaskan bahwa kebutuhan minyak nabati India akan terus melonjak seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk. Saat ini India merupakan ekonomi terbesar kelima di dunia dan diperkirakan naik ke posisi ketiga pada 2030.

India saat ini menyumbang 11 persen dari permintaan minyak nabati global. Konsumsinya mencapai sekitar 26,5 juta ton, dengan minyak sawit menyumbang 37 persen. Impor sawit mencapai 8,25 juta ton atau sekitar separuh dari total impor minyak nabati negara tersebut.

Pada 2047, kebutuhan minyak nabati nasional diproyeksikan melesat hingga 50 juta ton, sedangkan konsumsi sawit diperkirakan bisa mencapai 19 juta ton. “Pertanyaannya sederhana tetapi krusial, dari mana minyak sebanyak itu akan dipenuhi?,” tegas Chaturvedi.

Ia mengungkapkan bahwa India kerap melakukan penyesuaian tarif impor guna menjaga kestabilan harga dan melindungi pendapatan petani. Namun, menurutnya, kebijakan tarif tidak dapat menjadi solusi jangka panjang.

“Tarif tinggi ibarat ular yang memakan ekornya sendiri. Alih-alih menekan eksportir luar negeri, yang terbebani justru konsumen domestik. Harga naik, daya beli turun, dan industri ikut terpukul,” ujarnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore