Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 November 2025, 04.40 WIB

Mengelola Keuangan Ala Gen Z: Tips 1 Miliar Pertama di Era Arus Infromasi Serba Cepat

VP Digital Savvy Segment Solution Bank Mandiri, Pipit Puspita, memberikan paparan dalam Jawa Pos Leaning Hub, Senin (17/11). (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Jawa Pos Learning Hub bersama Bank Mandiri menggelar webinar "Langkah Nyata Membangun 1 Miliar Pertama di Era Digital" bersama VP Digital Savvy Segment Solution Bank Mandiri, Pipit Puspita, Senin (17/11/2025).

Webinar ini membahas bagaimana generasi muda dapat mencapai kemandirian finansial di tengah era digital yang serba cepat. Pipit menilai bahwa saat ini terdapat banyak media dan cara untuk meraih kebebasan finansial. Menurutnya, setiap generasi tumbuh dengan karakteristik yang berbeda. Generasi Z, mereka yang lahir antara 1995 hingga 2010, memiliki keunikan tersendiri karena sejak kecil sudah akrab dengan gadget, internet, dan akses informasi yang mudah. Kondisi ini membuat literasi keuangan lebih mudah dipelajari, tetapi juga membawa konsekuensi.

“Karena informasinya mudah, open minded untuk belajar hal-hal baru, termasuk salah satunya mempelajari financial literacy itu sangat mudah. Namun, ada plus minus-nya karena banyak informasi dan sosial media, internet, browsing cukup gampang dan cepat, mungkin bisa jadi terbiasa dengan segala sesuatu yang instan” ujar Pipit.

Selain dikarenakan usianya yang masih cukup muda untuk menabung, arus informasi yang deras sering kali memengaruhi pola konsumsi Gen Z. Mereka cenderung mudah tergoda membeli sesuatu yang dilihat di media sosial, baik dari influencer maupun teman sendiri. 

“Informasinya banyak banget, kemudian teman-teman masih muda, jadi wajar kalau melihat misalkan ada si A, si B punya barang apa juga pengen, akhirnya kan mengorbankan sedikit dana tabungannya” beber Pipit.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pipit menyarankan penggunaan sistem auto-debet agar tabungan atau investasi terpotong otomatis sebelum uang dipakai untuk hal lain. Jika tidak ingin memakai sistem, kebiasaan disiplin sangat diperlukan. 

“Di awal, sebelum teman-teman pakai untuk hal-hal yang lain, cara memotongnya pilih produk terlebih dahulu. Misalkan ada tabungan yang auto-debet atau reksadana yang auto-debet. Kalau memang tidak butuh yang sifatnya auto-debet by system, harus disiplin habis gajian langsung dibelikan instrumen investasi tertentu, bisa emas atau saham.” katanya.

Dalam pemaparannya, Pipit juga mengenalkan strategi pengelolaan uang dengan konsep 40-30-20-10, yakni 40 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk gaya hidup, 20 persen untuk tabungan atau investasi, dan 10 persen untuk dana darurat. Tapi, formula ini tidak bersifat kaku dan dapat disesuaikan dengan tujuan finansial masing-masing. Ia mencontohkan gaya hidup frugal living bagi mereka yang ingin memperbesar porsi tabungan.

“Dasarnya, jadi teman-teman harus memahami bahwa saya punya pendapatan berapa, mengelola apa, yang paling basic membagi dari pendapatan, dan bagaimana bisa me-manage ini agar seluruh kebutuhan dapat terpenuhi” ujarnya.

Pipit pun mengingatkan bahwa dana darurat adalah hal yang sering kali dilupakan, padahal sangat penting. Ia mencontohkan pada masa pandemi Covid-19 ketika banyak orang kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. "Situasi itu menunjukkan betapa pentingnya memiliki cadangan finansial untuk menghadapi kondisi tak terduga," pungkas Pipit. 

Editor: Hendra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore