VP Digital Savvy Segment Solution Bank Mandiri, Pipit Puspita, memberikan paparan dalam Jawa Pos Leaning Hub, Senin (17/11). (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Jawa Pos Learning Hub bersama Bank Mandiri menggelar webinar "Langkah Nyata Membangun 1 Miliar Pertama di Era Digital" bersama VP Digital Savvy Segment Solution Bank Mandiri, Pipit Puspita, Senin (17/11/2025).
Webinar ini membahas bagaimana generasi muda dapat mencapai kemandirian finansial di tengah era digital yang serba cepat. Pipit menilai bahwa saat ini terdapat banyak media dan cara untuk meraih kebebasan finansial. Menurutnya, setiap generasi tumbuh dengan karakteristik yang berbeda. Generasi Z, mereka yang lahir antara 1995 hingga 2010, memiliki keunikan tersendiri karena sejak kecil sudah akrab dengan gadget, internet, dan akses informasi yang mudah. Kondisi ini membuat literasi keuangan lebih mudah dipelajari, tetapi juga membawa konsekuensi.
“Karena informasinya mudah, open minded untuk belajar hal-hal baru, termasuk salah satunya mempelajari financial literacy itu sangat mudah. Namun, ada plus minus-nya karena banyak informasi dan sosial media, internet, browsing cukup gampang dan cepat, mungkin bisa jadi terbiasa dengan segala sesuatu yang instan” ujar Pipit.
Selain dikarenakan usianya yang masih cukup muda untuk menabung, arus informasi yang deras sering kali memengaruhi pola konsumsi Gen Z. Mereka cenderung mudah tergoda membeli sesuatu yang dilihat di media sosial, baik dari influencer maupun teman sendiri.
“Informasinya banyak banget, kemudian teman-teman masih muda, jadi wajar kalau melihat misalkan ada si A, si B punya barang apa juga pengen, akhirnya kan mengorbankan sedikit dana tabungannya” beber Pipit.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pipit menyarankan penggunaan sistem auto-debet agar tabungan atau investasi terpotong otomatis sebelum uang dipakai untuk hal lain. Jika tidak ingin memakai sistem, kebiasaan disiplin sangat diperlukan.
“Di awal, sebelum teman-teman pakai untuk hal-hal yang lain, cara memotongnya pilih produk terlebih dahulu. Misalkan ada tabungan yang auto-debet atau reksadana yang auto-debet. Kalau memang tidak butuh yang sifatnya auto-debet by system, harus disiplin habis gajian langsung dibelikan instrumen investasi tertentu, bisa emas atau saham.” katanya.
Dalam pemaparannya, Pipit juga mengenalkan strategi pengelolaan uang dengan konsep 40-30-20-10, yakni 40 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk gaya hidup, 20 persen untuk tabungan atau investasi, dan 10 persen untuk dana darurat. Tapi, formula ini tidak bersifat kaku dan dapat disesuaikan dengan tujuan finansial masing-masing. Ia mencontohkan gaya hidup frugal living bagi mereka yang ingin memperbesar porsi tabungan.
“Dasarnya, jadi teman-teman harus memahami bahwa saya punya pendapatan berapa, mengelola apa, yang paling basic membagi dari pendapatan, dan bagaimana bisa me-manage ini agar seluruh kebutuhan dapat terpenuhi” ujarnya.
Pipit pun mengingatkan bahwa dana darurat adalah hal yang sering kali dilupakan, padahal sangat penting. Ia mencontohkan pada masa pandemi Covid-19 ketika banyak orang kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. "Situasi itu menunjukkan betapa pentingnya memiliki cadangan finansial untuk menghadapi kondisi tak terduga," pungkas Pipit.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
