Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 November 2025, 00.02 WIB

UMKM Surabaya Fashion Parade 2025: Menembus Panggung Mode Nasional

SFP 2025 bukan sekadar ajang mode, tapi kesempatan bagi UMKM lokal untuk dapat sorotan. (Istimewa) - Image

SFP 2025 bukan sekadar ajang mode, tapi kesempatan bagi UMKM lokal untuk dapat sorotan. (Istimewa)

JawaPos.com - Keberadaan sembilan UMKM dari berbagai daerah di Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025 mencuri perhatian dalam gelaran bertema 'Rebellion' yang diselenggarakan di Convention Hall Tunjungan Plaza akhir pekan lalu. Partisipasi para perajin ini menandai semakin kuatnya upaya pelaku usaha kecil menembus panggung mode nasional yang selama ini didominasi brand komersial.

Karya yang ditampilkan mencerminkan keragaman wastra Indonesia, mulai dari tenun ikat Garut, batik Solo, tenun Palembang, sulam dan kriya Sumatera Utara, tas rajut, kerajinan perak, hingga batik ecoprint. Perpaduan antara teknik tradisional dan desain kontemporer membuat sejumlah koleksi menarik perhatian buyer dan pengunjung.

Penyelenggara Indonesia Fashion Parade, Dian Apriliana Dewi, menilai banyak karya UMKM tahun ini menunjukkan keberanian untuk keluar dari pakem lama. "Eksplorasi tekstur, detail, dan bentuk yang ditampilkan memberi kesan pemberontakan kreatif, namun tetap elegan. Ini energi baru yang dibutuhkan industri fashion lokal," ujar dia melalui keterangannya, Selasa (18/11).

Di sisi lain, PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGN) sebagai pihak yang memfasilitasi keikutsertaan sembilan UMKM tersebut menilai panggung mode seperti SFP berperan membuka akses pasar baru bagi perajin. Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan bahwa ajang fashion berskala besar memberi ruang bagi UMKM untuk berinteraksi langsung dengan pelaku industri, buyer, hingga konsumen potensial.

"Pameran seperti ini bukan sekadar tempat memamerkan karya. Di sini para perajin bisa membaca tren, menangkap peluang kolaborasi, dan memahami standar kualitas yang dibutuhkan industri kreatif," kata Fajriyah.

Ia menekankan bahwa daya saing UMKM tidak hanya ditentukan oleh desain dan kualitas produk, tetapi juga pemahaman pasar dan kemampuan membangun jejaring. Menurut Fajriyah, pengalaman di SFP dapat membantu perajin melihat bagaimana karya mereka dihargai publik sekaligus mengukur kesiapan masuk pasar yang lebih luas.

Peran UMKM sendiri sangat signifikan dalam perekonomian Indonesia. Data 2024 menunjukkan kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 61 persen, menjadikannya sektor vital bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. 

Penguatan posisi UMKM di industri fashion dinilai dapat memberikan efek berantai, mulai dari peningkatan nilai tambah hingga pergerakan rantai pasok di daerah.

Pada gelaran SFP, pengunjung juga antusias mengikuti berbagai aktivitas interaktif seperti proses mencanting batik dan demonstrasi tenun ikat Garut. Selain memberi pengalaman edukatif, kegiatan ini memperlihatkan kompleksitas kerja perajin yang selama ini jarang terlihat oleh konsumen.

Beberapa pelaku UMKM mengaku mendapatkan potensi kerja sama baru setelah karya mereka menarik perhatian pengunjung dan buyer yang hadir. Bagi mereka, tampil di SFP menjadi momentum untuk mengukur selera pasar sekaligus memperkuat branding produk berbasis budaya.

Keterlibatan UMKM dalam SFP 2025 memperlihatkan bahwa wastra Nusantara memiliki potensi besar tidak hanya sebagai artefak budaya, tetapi juga sebagai produk kreatif yang kompetitif. 

Dengan semakin terbukanya panggung bagi perajin lokal, peluang UMKM untuk memperluas pasar, baik nasional maupun internasional, diperkirakan akan terus berkembang.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore