Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 November 2025, 06.24 WIB

Ancaman Kontaminasi Pangan Meningkat, Pelaku Industri Dorong Penguatan Laboratorium Pengujian

Managing Director Alvalab Billy Laurence di arena SIAL Interfood 2025. (Istimewa) - Image

Managing Director Alvalab Billy Laurence di arena SIAL Interfood 2025. (Istimewa)

JawaPos.com-Di tengah meningkatnya kasus penarikan produk (recall), temuan cemaran pangan, hingga tuntutan ekspor yang makin ketat, isu keamanan pangan kembali menjadi perhatian utama industri makanan dan minuman. 

Tren tersebut salah satunya dibahas di gelaran SIAL Interfood 2025. Berbagai pelaku usaha fokus mencari solusi pengujian yang lebih akurat dan berstandar global.

Salah satu sorotan adalah meningkatnya kebutuhan industri terhadap deteksi dini kontaminasi pangan. Mulai dari logam berat, mikrobiologi, residu pestisida, hingga analisis stabilitas dan masa simpan. 

Banyak pelaku usaha menilai bahwa tantangan keamanan pangan kini jauh lebih kompleks dibanding lima tahun lalu, seiring ketatnya regulasi dan meningkatnya kesadaran konsumen.

Isu Kontaminasi Jadi Tantangan Baru Industri

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara tujuan ekspor memperketat ambang batas cemaran (MRL) untuk produk agrikultur, rempah, hingga olahan pangan. Hal serupa terjadi di pasar domestik, di mana pemerintah memperluas pengawasan terhadap produk makanan dan minuman siap konsumsi.

“Industri tak bisa lagi hanya mengandalkan uji dasar. Kebutuhannya kini mencakup analisis presisi tinggi, prediksi umur simpan berbasis metode percepatan, hingga pemantauan risiko kontaminasi kompleks,” ujar Billy Laurence, Managing Director Alvalab, salah satu laboratorium pengujian yang berpartisipasi di SIAL Interfood 2025 kepada awak media.

Menurut Billy, lonjakan permintaan layanan pengujian terjadi terutama dari sektor rempah-rempah, minyak sawit, produk olahan, serta komoditas ekspor yang diwajibkan memenuhi standar ketat negara tujuan.

Sejumlah pelaku industri menilai bahwa ketersediaan laboratorium berstandar internasional masih belum merata di Indonesia. Terutama untuk pengujian berpresisi tinggi seperti HPLC / LC-MS untuk deteksi residu kimia, uji mikrobiologi lanjutan, dan analisis logam berat dengan sensitivitas tinggi. Selain itu, prediksi umur simpan untuk produk baru dan proficiency testing yang mengacu standar global seperti ISO, FCC, dan ASTA.

Di tengah kesenjangan tersebut, laboratorium yang memiliki kapabilitas lengkap menjadi rujukan banyak perusahaan. Di SIAL Interfood 2025, sejumlah pengunjung mengaku mencari fasilitas yang dapat mendukung pemenuhan standar domestik maupun ekspor.

Salah satu isu yang mencuat dalam diskusi pelaku usaha adalah pengetatan regulasi residu pestisida pada komoditas hortikultura dan rempah. Banyak eksportir menyebut bahwa layanan ini masih terbatas dan membutuhkan investasi besar pada teknologi analitik.

Billy menyampaikan bahwa fasilitasnya berencana membuka layanan analisis residu pestisida pada 2025–2026 sebagai respons terhadap permintaan industri yang meningkat signifikan.

“Banyak klien kami menargetkan pasar global. Untuk memenuhi standar FDA atau regulator Eropa, mereka membutuhkan pengujian yang mengikuti metodologi internasional,” tambah dia.

Selain pengujian laboratorium, industri kini menuntut ketertelusuran (traceability) yang lebih kuat. Sistem LIMS (Laboratory Information Management System) disebut sebagai salah satu teknologi yang mulai menjadi keharusan karena mampu mempercepat proses analisis, menjaga integritas dan keamanan data dan memastikan kepatuhan audit.

Tren ini menunjukkan bahwa keamanan pangan bukan lagi soal hasil laboratorium semata, tetapi juga transparansi data dan akuntabilitas proses.

“Kami melihat urgensi untuk memperluas kapasitas layanan dan memperkuat kemitraan internasional agar industri Indonesia bisa bersaing secara global,” tandas Billy.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore