Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Desember 2025, 22.13 WIB

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan: Tantangan dan Peluang Usaha Keluarga di Asia

Ilustrasi keluarga/freepik - Image

Ilustrasi keluarga/freepik

JawaPos.com-Survei terbaru mengungkapkan sebuah peringatan penting bagi keberlangsungan usaha keluarga di Asia. Walaupun sebagian besar pemilik usaha sudah memikirkan pengaturan warisan, hanya 27 persen yang benar-benar memiliki rencana penerus usaha yang terstruktur. Artinya, hampir tiga perempat usaha keluarga masih belum menyiapkan langkah jelas untuk keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan keluarga di masa depan.

Padahal, peran usaha keluarga dalam perekonomian Asia sangat besar. Di kawasan Asia Pasifik, dalam servei Sun Life Asia, 85 persen bisnis dimiliki oleh keluarga, dan 97 persen merupakan usaha kecil dan menengah. Selain itu, Asia juga menyumbang 18 persen perusahaan keluarga terbesar di dunia, menegaskan bahwa keberlanjutan generasi menjadi faktor strategis dalam menjaga nilai bisnis di tingkat global.

Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, menekankan pentingnya peralihan bisnis lintas generasi yang matang:
“Peralihan kekayaan dalam skala besar sudah berlangsung di Asia, sehingga penting bagi para pemilik usaha untuk mempersiapkan masa depan dan menjaga warisan mereka.”

Survei menunjukkan 94 persen pemilik usaha berencana menyiapkan pengaturan warisan menyeluruh. Namun faktanya: 27 persen sudah memiliki rencana penerus usaha lengkap, 25 persen baru memiliki sebagian rencana, 24 persen sedang menyusunnya, dan 19 persen belum memiliki rencana sama sekali

Indonesia tercatat paling siap di kawasan, dengan 39 persen usaha keluarga yang sudah memiliki rencana penerus bisnis terstruktur. Sebaliknya, di Vietnam hanya 14 persen.

Meski generasi penerus telah terlibat dalam bisnis, hanya 44 persen yang sepenuhnya memahami rencana warisan keluarga. Banyak diskusi penting justru belum terkomunikasikan secara jelas.

Ketika membahas warisan, keluarga pemilik usaha memprioritaskan: 69 persen menekankan perlindungan keuangan keluarga, 54 persen ingin rencana warisan yang jelas dan terkomunikasikan, dan 51 persen ingin kekayaan dapat terus tumbuh dan diwariskan.

Sebanyak 68 persen juga ingin warisan diinvestasikan pada aset yang dapat terus berkembang, termasuk asuransi jiwa dan portofolio keuangan.

Hanya 40 persen pemilik usaha percaya generasi penerus siap melanjutkan bisnis keluarga. Keengganan tersebut banyak dipengaruhi faktor personal: 50 persen ingin mandiri, 42 persen khawatir akan tanggung jawab besar, 28 persen kurang minat, dan 27 persen memiliki perbedaan visi dan nilai.

Generasi muda kini lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan aspirasi pribadi. Artinya, komunikasi dan perencanaan jauh lebih penting daripada sekadar asumsi.

Meski kebutuhan jelas, kurang dari separuh pemilik usaha pernah berkonsultasi mengenai perencanaan warisan dan bisnis keluarga. Faktor utama dalam memilih konsultan keuangan: 61 persen mengutamakan keahlian profesional, 52 persen melihat kemampuan merencanakan untuk lintas generasi, dan 49 persen menginginkan pendekatan personal dan disesuaikan

Model layanan yang dipilih: 36 persen memilih ahli individual, 23 persen memilih family office komprehensif, dan 32 persen menggunakan kombinasi keduanya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore