Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu. (Istimewa)
JawaPos.com–Indonesia ternyata punya sejarah mentereng saat berhadapan dengan raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS). Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menceritakan kembali momen kemenangan Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait blokir rokok kretek.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu melawan kebijakan diskriminatif negara besar di panggung diplomasi ekonomi global.
Awal perselisihan ini bermula ketika Amerika Serikat melarang peredaran rokok kretek asal Indonesia dengan alasan kesehatan. Namun anehnya, AS tetap mengizinkan peredaran rokok mentol yang secara karakteristik serupa. Mari Elka menegaskan bahwa tindakan tersebut melanggar prinsip fundamental WTO, yaitu non-diskriminasi.
”Waktu itu Amerika melarang ekspor kretek dari Indonesia dengan alasan kesehatan, tapi mentol tidak dilarang. Padahal sama-sama rokok berperasa. Ini jelas diskriminatif,” ujar Mari Elka.
Dalam persidangan di WTO, pihak Amerika Serikat berdalih bahwa cengkeh dalam rokok kretek jauh lebih berbahaya dan memicu kecanduan pada anak muda. Namun, klaim tersebut rontok karena tidak didasari bukti riset yang kuat.
”Kami minta Amerika membuktikan bahwa cengkeh lebih membuat adiktif dibanding mentol. Mereka tidak bisa membuktikan. Dalam WTO, larangan seperti itu harus disertai pembuktian. Karena tidak bisa, Indonesia menang,” jelas Mari Elka.
Mari Elka menambahkan bahwa secara teknis, baik mentol maupun kretek adalah produk yang sama-sama menggunakan campuran perasa. Jadi, perlakuan berbeda terhadap keduanya dianggap tidak sah secara aturan dagang internasional.
Meski hukum internasional memihak Indonesia, kenyataan di lapangan tidak semanis hasil sidang. Sebagai negara superpower, Amerika Serikat tidak serta-merta tunduk dan mencabut aturan tersebut.
”Secara aturan mereka seharusnya mencabut larangan itu. Tapi karena ini negara besar, larangan tidak pernah benar-benar dicabut. Indonesia akhirnya hanya mendapat hak retaliasi dan membuat kesepakatan tertentu,” ungkap Mari Elka.
Walau begitu, dia menekankan bahwa langkah Indonesia tetap krusial. ”Bagi kami, kalah-menang itu urusan lain. Yang penting Indonesia fight untuk prinsip. Amerika jelas melanggar asas non-diskriminasi,” tegas Mari Elka.
Kisah perjuangan rokok kretek ini disebut Mari sebagai contoh nyata implementasi semangat Indonesia First. Dia juga menyoroti kondisi WTO saat ini yang cenderung melemah akibat tekanan politik negara-negara besar.
”Dulu WTO memungkinkan negara seperti Indonesia melawan Amerika. Sekarang instrumen itu makin dilemahkan, terutama oleh Amerika sendiri,” tutur Mari Elka.
Ke depan, Mari Elka berpesan agar Indonesia tetap berani melawan jika produk unggulan nasional, seperti sawit atau kretek, diperlakukan tidak adil di pasar dunia. ”Kalau parameter internasional itu tidak adil, seperti sawit atau kretek, maka kita harus fight,” imbuh dia.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
