Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Oktober 2025, 16.30 WIB

Pertamina NRE Blak-blakan soal Sulitnya Jualan Energi Bersih di Tengah Dorongan Transisi Hijau

CEO Pertamina NRE, John Anis. (dok. PNRE) - Image

CEO Pertamina NRE, John Anis. (dok. PNRE)

JawaPos.com - Di tengah gencarnya dorongan global menuju ekonomi hijau, tantangan terbesar dalam transisi energi justru bukan pada teknologi, melainkan pada bagaimana energi bersih bisa dikomersialisasikan secara berkelanjutan. Hal itu menjadi sorotan utama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dalam ajang Asia Pacific Oil and Gas Conference and Exhibition (APOGCE) 2025 yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu.

CEO Pertamina NRE, John Anis, yang menjadi salah satu panelis dalam sesi bertema 'Navigating the Transition: Business Models and Policies for Sustainable Energy Commercialisation', menegaskan bahwa model bisnis dan kebijakan publik memegang peran krusial dalam mempercepat transisi energi bersih.

"Transisi energi bukan hanya soal mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan, tapi bagaimana menciptakan model bisnis yang bisa membuatnya bertahan dan menguntungkan," ujar John dalam forum tersebut.

Menurutnya, komersialisasi energi bersih di Indonesia masih terhambat oleh ketidakpastian regulasi, risiko teknologi, serta keterbatasan akses pembiayaan. Karena itu, ia mendorong adanya sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga lembaga keuangan, untuk membangun ekosistem energi hijau yang tangguh.

Pertamina NRE disebut tengah mengembangkan model bisnis adaptif guna meningkatkan kepastian investasi di sektor energi baru dan terbarukan. Langkah ini dinilai penting agar proyek-proyek energi bersih tidak hanya bergantung pada subsidi atau insentif pemerintah.

Selain itu, Pertamina NRE juga membuka peluang kemitraan global untuk mempercepat transfer teknologi dan dekarbonisasi melalui riset bersama serta investasi lintas negara. Upaya ini menjadi bagian dari strategi Pertamina Group untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau dunia.

"Energi bersih bukan sekadar pilihan, melainkan keniscayaan masa depan. Kami ingin menjadi bagian dari solusi global dalam memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan," kata John.

Isu yang diangkat Pertamina NRE mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi banyak negara berkembang: bagaimana menjadikan energi hijau bukan sekadar simbol keberlanjutan, tetapi juga sumber ekonomi baru yang menguntungkan. John menutup dengan seruan agar kolaborasi lintas sektor tidak berhenti di level wacana.

"Membangun masa depan energi hijau membutuhkan aksi bersama antara pemerintah, industri, investor, dan masyarakat. Dengan kolaborasi dan kebijakan yang progresif, kita bisa menciptakan kemajuan berkelanjutan bagi Indonesia dan dunia," tandasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore