Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Oktober 2025, 02.52 WIB

Agar Tenang pada Masa Pensiun, Upaya Dorong Produktivitas di Hari Tua Lewat Mantapreneur Naik Kelas

Ilustrasi: Banyak pensiunan menghadapi persoalan baru di hari tuanya. (hctutorial) - Image

Ilustrasi: Banyak pensiunan menghadapi persoalan baru di hari tuanya. (hctutorial)

JawaPos.com - Banyak pensiunan menghadapi kenyataan pahit setelah masa tugasnya berakhir. Alih-alih bisa hidup tenang, kenyataan sebaliknya justru kerap mereka temui dan tak sedikit jumlahnya.

Penghasilan tetap berhenti, produktivitas menurun, dan sebagian harus bergulat dengan tekanan mental karena merasa tak lagi berguna. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan serius di tengah bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia.

Kesadaran akan masalah tersebut mulai mendorong sejumlah pihak mencari solusi. Salah satunya dilakukan Bank Mandiri Taspen, yang mencoba mengubah paradigma pensiun melalui program Mantapreneur Naik Kelas, pelatihan kewirausahaan bagi para purna bakti agar tetap produktif dan bahkan bisa menembus pasar ekspor.

Program ini kali ini menyasar 50 wirausahawan pensiunan dari berbagai kota di Jawa Tengah, dengan latar belakang usaha mulai dari batik, mebel, tas kulit, hingga kopi lokal. Selama tiga hari pelatihan di Semarang (23–25 Oktober 2025), para peserta belajar strategi ekspor, manajemen produksi, hingga pemenuhan standar internasional agar produk mereka mampu bersaing di pasar global.

“Banyak pensiunan yang masih punya semangat bekerja, tapi terkendala akses, pengetahuan, dan jaringan. Di sinilah peran kami untuk membantu mereka naik kelas,” ujar Plt Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, Maswar Purnama, di sela kegiatan.

Maswar menambahkan, pelatihan kali ini berfokus pada tema Go Ekspor dan bekerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank. 

Tujuannya, agar produk para pensiunan tak hanya berputar di pasar lokal, tetapi bisa menembus pasar mancanegara. “Kalau janji ekspor satu ton setahun, harus bisa dipenuhi. Jadi bukan sekadar wacana, tapi benar-benar siap jual,” ujarnya.

Program ini juga mengajarkan pentingnya pengemasan produk, pencantuman tanggal kedaluwarsa, serta menjaga kualitas dan kontinuitas produksi, hal-hal yang sering luput dari perhatian pelaku usaha kecil, apalagi mereka yang baru memulai di usia senja.

Sementara itu, menurut Direktur Operasional PT Taspen, Tribuna Phitera Djaja, banyak aparatur sipil negara (ASN) yang mengalami post-retirement syndrome karena kehilangan aktivitas produktif. 

“Banyak yang tidak siap menghadapi masa pensiun karena sebelumnya tidak punya rencana atau kegiatan yang jelas,” ujarnya.

Untuk itu, Taspen mendorong agar ASN mulai menyiapkan diri minimal lima tahun sebelum pensiun. “Kalau persiapan dilakukan jauh hari, mereka punya waktu untuk belajar, gagal, dan mencoba lagi. Jadi tidak kaget ketika masa pensiun tiba,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Kepatuhan Bank Mandiri Taspen, Resi Lora, menyebut bahwa wirausaha bisa menjadi bentuk terapi bagi para pensiunan. 

“Dengan berusaha, mereka jadi lebih aktif, sehat, dan punya semangat hidup. Beda dengan yang hanya berdiam diri dan sibuk dengan ponsel, yang justru bisa mempercepat kepikunan,” katanya.

Bank Mandiri Taspen sendiri telah menyiapkan berbagai model usaha dengan risiko rendah dan modal bervariasi, mulai dari Rp 2 juta. Dari sektor kuliner, kerajinan, hingga produk lokal yang bisa dikembangkan untuk pasar ekspor.

Pihak LPEI menilai, kolaborasi ini bukan hanya membantu pensiunan mandiri secara ekonomi, tapi juga membuka peluang kontribusi mereka terhadap devisa negara. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore