
Ilustrasi gedung SMBC. (SMBC)
JawaPos.com - PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) mencatat laba bersih konsolidasi setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,5 triliun hingga kuartal III 2025, menurun 26 persen Year-on-Year (YoY). Adapun pendapatan operasional tercatat sebesar Rp 13,8 triliun, meningkat 11 persen yoy. Sementara pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 9 persen yoy.
"SMBC Indonesia menjaga kinerja yang solid sepanjang periode tersebut dengan merespons dinamika pasar serta pergeseran kebijakan moneter secara cepat dan efektif," kata Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar, dikutip Kamis (30/10).
Sebagai catatan, laporan keuangan konsolidasi SMBC Indonesia periode Januari-September 2025 sudah memperhitungkan kinerja keuangan PT Oto Multiartha (OTO) dan PT Summit Oto Finance (SOF), atau Grup OTO. Keduanya resmi menjadi bagian dari SMBC Indonesia setelah penyelesaian akuisisi pada akhir Maret 2024.
Kontribusi pasca-akuisisi dari Grup OTO turut mendorong peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan menjadi 7,1 persen pada September 2025 dari 6,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit SMBC Indonesia secara konsolidasi mencapai Rp 186,2 triliun, meningkat 6 persen yoy dari Rp 175,1 triliun pada tahun sebelumnya.
Sementara dari sisi pendanaan, saldo current account & savings account (CASA) naik 33 persen yoy menjadi Rp 50,6 triliun. Pertumbuhan ini mendorong rasio CASA dari 33,6 persen pada September 2024 menjadi 42 persen pada September 2025.
Sedangkan deposito berjangka menurun 7 persen yoy menjadi Rp 69,7 triliun. Adapun total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6 persen yoy menjadi Rp 120,3 triliun.
SMBC Indonesia memastikan kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto sebesar 2,8 persen per September 2025.
Meski angka ini lebih tinggi dibanding 2,2 persen setahun sebelumnya, namun membaik dari 3,2 persen pada akhir Juni 2025.
Posisi likuiditas dan pendanaan tetap kuat, tercermin dari rasio cakupan likuiditas (liquidity coverage ratio/LCR) sebesar 277,8 persen, rasio pendanaan stabil bersih (net stable funding ratio/NSFR) sebesar 119,9 persen, serta rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 29,8 persen.
Produk perbankan digital dari SMBC Indonesia, Jenius, turut mencatatkan hasil positif di tengah performa pendanaan dan likuiditas yang kuat.
Jumlah pengguna terdaftar naik 7 persen yoy menjadi 6,3 juta dan DPK tumbuh 13 persen yoy menjadi Rp 30,7 triliun. Sementara portofolio kredit Jenius, seperti Flexi Cash, Digital Micro, Kartu Kredit Jenius, dan Jenius Paylater, naik 7 persen yoy menjadi Rp3,5 triliun.
Menurut perseroan, pertumbuhan berkelanjutan ini menegaskan posisi Jenius sebagai pemimpin sektor perbankan digital di Indonesia yang terus mendorong inklusi keuangan melalui solusi digital yang sederhana, mudah diakses, dan inovatif.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
