Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 November 2025, 18.13 WIB

Industri Pembiayaan Tumbuh 1,07 Persen di Tengah Perlambatan Ekonomi

ILUSTRASI. Sebanyak 25 peserta perusahaan pembiayaan mengikut gelaran Multifinance Day yang berlansung di Surabaya. (Frizal/Jawapos) - Image

ILUSTRASI. Sebanyak 25 peserta perusahaan pembiayaan mengikut gelaran Multifinance Day yang berlansung di Surabaya. (Frizal/Jawapos)

JawaPos.com - Industri pembiayaan atau multifinance masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah perlambatan ekonomi nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per September 2025 total piutang multifinance mencapai Rp 507,14 triliun, tumbuh 1,07 persen secara tahunan (YoY). Namun, laju pertumbuhan tersebut melambat cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan kenaikan 9,39 persen YoTY. Secara bulanan pun terjadi perlambatan dibandingkan Agustus 2025 yang tumbuh 1,26 persen YoY.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan, secara umum penyaluran sektor lembaga PVML per September 2025 mencapai Rp973,78 triliun atau naik 5,06 persen YoY. "Sektor PVML diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun, meski dihadapkan berbagai tantangan antara lain dinamika ekonomi," ujar Agusman di Jakarta, dikutip Jumat (14/11).

Dari sisi profitabilitas, industri multifinance mencatatkan kinerja yang cukup baik. Laba perusahaan pembiayaan per September 2025 tercatat sebesar Rp 16,14 triliun, naik 10,54 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan laba tersebut terutama ditopang oleh naiknya pendapatan pembiayaan.

Dia menilai tren positif ini akan semakin kuat menjelang akhir tahun. "Promo jelang akhir tahun tentunya dapat mendorong pertumbuhan pembiayaan di industri multifinance. Per September 2025, penyaluran piutang pembiayaan yang terafiliasi dengan Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) meningkat 6,82 persen YoY menjadi sebesar Rp 228,52 triliun," ungkapnya.

Dari sisi profil risiko, industri multifinance dinilai tetap dalam kondisi sehat. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Financing/NPF) gross tercatat sebesar 2,47 persen dan NPF net di level 0,84 persen. Sementara itu, rasio gearing sebesar 2,17 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali yang ditetapkan OJK.

"Rasio ini menunjukkan terjaganya kinerja industri multifinance," tuturnya.

Secara wilayah, pertumbuhan piutang pembiayaan tertinggi terjadi di Provinsi Papua Selatan yang melesat 126,49 persen YoY menjadi Rp 696,54 miliar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya pembiayaan alat berat, yang mencapai Rp 351,58 miliar.

Secara nasional, pembiayaan alat berat juga mencatat tren positif. Hingga September 2025, piutang pembiayaan untuk segmen ini tumbuh 9,38 persen YoY menjadi Rp 48,24 triliun. OJK memperkirakan sektor pembiayaan alat berat akan terus tumbuh hingga akhir tahun, meski menghadapi tekanan dari fluktuasi harga komoditas global.

Melihat perkembangan tersebut, OJK optimistis prospek industri multifinance pada 2026 masih cerah. "Industri multifinance diperkirakan tetap tumbuh positif pada tahun 2026, dengan adanya peluang untuk melakukan ekspansi, meskipun dihadapkan berbagai tantangan. Untuk itu, perusahaan multifinance perlu memperkuat manajemen risiko, mendiversifikasi produk, dan mengakselerasi transformasi teknologi," tutupnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore