Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Februari 2026, 18.17 WIB

Dibayangi Outlook Negatif Moody’s, IHSG Melemah 2,14 Persen

Pegawai berada di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Pegawai berada di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pasar saham Indonesia berada di zona merah pada perdagangan, Jumat (6/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka pada level 7.945, kemudian makin anjlok ke level 7.930, turun 2,14 persen atau 173,4 poin pada pukul 10.47 WIB.

Mengutip data RTI Business, pada perdagangan awal sesi ini ada sebanyak 108 saham tercatat menguat, 623 saham melemah, dan 84 saham tidak mengalami pergerakan alias stagnan.

Sementara itu, volume transaksi di perdagangan tercatat 17.290 saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 8.124 miliar. Adapun frekuensi transaksi tercatat 1.149.843 kali.

Pelemahan ini rupanya sejalan dengan prediksi dari Phintraco Sekuritas yang memprediksi bahwa IHSG hari ini akan dibayangi oleh penurunan outlook peringkat Indonesia dari Moody's. Pihaknya memperkirakan, IHSG akan bergerak pada rentang resistance 8.200 dan support 8.000.

Di sisi lain, pelemahan yang telah terjadi sejak penutupan perdagangan Kamis (5/2) terjadi dipicu oleh sentimen negatif dari melemahnya indeks bursa Asia dan koreksi harga emas.

Pasalnya, pelemahan masih terjadi meskipun ekonomi RI sudah mencapai 5,39 persen pada Kuartal IV-2025. "Pelemahan terjadi meskipun data pertumbuhan ekonomi Kuartal IV-2025 di atas perkiraan," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (6/2).

Selanjutnya, investor akan menantikan rilisnya laporan cadangan devisa bulan Januari 2026 dan indeks harga properti Kuartal IV-2025 pada hari ini. Adapun sebelumnya, Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Investors Service mengubah prospek (outlook) peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Meski demikian, Moody’s tetap menegaskan peringkat kredit Indonesia bertahan di level Baa2, satu tingkat di atas ambang batas investment grade. Penurunan outlook tersebut didorong oleh meningkatnya risiko kebijakan dan tata kelola yang dinilai dapat melemahkan kredibilitas ekonomi Indonesia ke depan.

Moody’s menilai prediktabilitas kebijakan mengalami penurunan, tercermin dari proses pembuatan kebijakan yang kurang koheren dan berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku pasar.

Dalam laporannya, Moody’s juga menyoroti munculnya risiko tata kelola. Penurunan sejumlah indikator tata kelola dinilai mencerminkan potensi pelemahan institusional, yang pada akhirnya dapat memengaruhi efektivitas perumusan dan implementasi kebijakan ekonomi.

Dari sisi fiskal, Moody’s mencatat adanya risiko strategi fiskal seiring dorongan belanja untuk pertumbuhan ekonomi di tengah basis penerimaan negara yang masih lemah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko pelebaran defisit anggaran.

Selanjutnya, ketidakpastian juga muncul dari peran Danantara, Moody’s menilai belum jelasnya tata kelola dan mekanisme pendanaan Danantara berpotensi menciptakan kewajiban kontingen bagi negara, terutama jika dikaitkan dengan pengelolaan aset dan keterlibatan BUMN.

Selain itu, Moody’s menyoroti kemungkinan terjadinya pergeseran rezim kebijakan. Potensi perubahan pada kerangka fiskal dan moneter dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian kebijakan, yang berdampak pada iklim investasi dan stabilitas pasar keuangan.

Ketidakpastian kebijakan tersebut dinilai turut melemahkan daya tarik investasi. Moody’s memperingatkan bahwa kondisi ini dapat menghambat arus investasi baru serta meningkatkan biaya pinjaman.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore