Ilustrasi Investasi. (Freepik)
JawaPos.com - Generasi Z sering dicap boros dan sulit mengelola keuangan oleh generasi pendahulunya. Padahal, realitanya jauh lebih kompleks.
Di tengah lonjakan harga kebutuhan dan properti yang kian tak terjangkau, anak muda zaman sekarang ternyata punya cara main sendiri dalam memutar uang.
Berdasarkan data, hampir tiga perempat Gen Z sangat berambisi menjadi kaya di masa depan. Namun, mengapa menabung secara tradisional terasa sangat berat bagi mereka?
Melansir dari YourTango, diungkapkan jawaban dari pertanyaan itu bukanlah karena sekadar gaya hidup, melainkan pergeseran drastis pada kebiasaan finansial mereka.
Berbeda dengan orang tua mereka yang setia menaruh uang di tabungan bank atau dana pensiun, Gen Z lebih suka membuat uang mereka "bekerja". Bagi mereka, mendiamkan uang di rekening hanya akan membuatnya tergerus inflasi.
Menariknya, mereka mulai meninggalkan mimpi memiliki rumah secara fisik sebagai investasi utama karena harganya yang selangit. Sebagai gantinya, Gen Z beralih ke:
- Real estat fraksional (patungan aset properti).
- Reksa Dana dan ETF.
- Mata uang kripto hingga NFT.
Gen Z bukan tidak peduli pada masa depan finansial, tetapi mereka memilih jalur yang lebih fleksibel dan berani mengambil risiko dibanding generasi orang tua mereka.
Antusiasme ini membuat uang mereka lebih cepat bergerak, namun risikonya, dana darurat dan tabungan konvensional sering kali terabaikan.
Dulu, kunci keamanan ekonomi adalah loyalitas pada satu perusahaan hingga pensiun. Namun, Gen Z menyaksikan sendiri fenomena PHK massal dan perubahan industri yang cepat, sehingga mereka tidak lagi percaya pada konsep "pekerjaan tetap".
Banyak dari mereka yang memilih jalur freelance, ekonomi kreatif, atau membangun personal brand di media sosial.
Meski menawarkan kebebasan, model pendapatan tidak tetap ini memiliki sisi gelap: perencanaan keuangan jadi lebih rumit.
