
Personel SAR dan PMI berupaya menembus lorong sempit yang penuh dengan beton, benda tajam di reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, demi menyelamatkan nyawa. (Basarnas Surabaya)
JawaPos.com - Di lorong sempit berdiameter hanya 60 sentimeter, dikelilingi beton-beton besar dan besi tajam reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo, Aaron Franklyn Soaduon Simatupang harus mengambil keputusan krusial hidup-mati.
Aaron yang merupakan dokter TNI itu memutuskan untuk mengamputasi salah satu lengan seorang santri yang tertimbun reruntuhan bangunan bernama Nur Ahmad.
Aksi penyelamatan Nur Ahmad itu merupakan satu dari sekian cerita menyayat hati dari para pejuang kemanusiaan, yang terselip di balik tragedi ambruknya bangunan empat lantai milik Ponpes Al Khoziny Sidoarjo pada Senin (29/9) lalu.
Dalam situasi genting, mereka tetap melakukan tindakan penyelamatan. Semua itu demi menolong satu persatu nyawa, semaksimal mungkin.
Sebelum amputasi dilakukan, di balik puing-puing bangunan, para personel SAR bekerja keras membukakan jalan. Mereka bahu membahu menembus reruntuhan, melawan lelah dan risiko bangunan makin runtuh.
"Itu hari pertama, Mbak. Senin malam (29/9), di mana Basarnas Surabaya bekerja penuh mencari korban hampir 11 jam, sebelum akhirnya dibantu oleh Basarnas daerah lainnya, seperti Semarang, Yogyakarta," tutur salah seorang personel Basarnas yang enggan disebutkan namanya.
Berlomba dengan golden time atau periode waktu kritis, para personel SAR hanya punya satu tujuan: bagaimana menyelamatkan korban yang masih hidup secepat mungkin dan sebanyak mungkin.
Di tengah udara lembap bercampur bau debu, semen, dan aroma logam dari besi-besi patah, tim SAR merayap di sela reruntuhan yang masih rawan. Berusaha menembus puing demi menemukan tanda-tanda kehidupan di sela-sela beton yang retak.
Petunjuknya hanya satu. Rintihan dan suara para santri dari balik reruntuhan, yang menandakan nyawa masih menyatu dengan raga.
"Evakuasi hari pertama benar-benar crowded. perasaan saya semakin campur aduk melihat bangunan hampir rata dengan tanah. Suara-suara minta tolong dan rintihan korban kesakitan jelas sekali malam itu," lanjutnya lirih.
Tim SAR bergegas melakukan asesmen ke area yang belum terjamah. Termasuk di area dekat imam (mimbar), yang kemudian dinamai menjadi zona A3.
"Orang yang masih ada tanda kehidupan diupayakan untuk evakuasi duluan sebelum meninggal. Salah satunya saat kita menemukan keberadaan Nur Ahmad," ucapnya melanjutkan.
Ahmad ditemukan tim SAR gabungan di zona A3, dengan posisi tangan kirinya tergencet beton. Saat hendak mengevaluasi, rupanya di tempat yang sama ada 1 korban hidup, dengan posisi sebagian kepalanya tergencet beton.
Dengan penuh perhitungan, Tim SAR membuka akses dengan motor pilar galvalum untuk menjangkau kedua korban yang terjepit beton. Mereka juga memastikan jalur yang dibuat aman untuk evakuasi.
"Kami utamakan dahulu (korban) yang kepalanya tergencet, karena akses ke dia lebih dekat dan kondisi kesadaran atau responsnya pada malam itu sudah di bawah 50 persen. Sehingga harus buru-buru dievakuasi," lanjutnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
