Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 Maret 2026, 02.45 WIB

Sejarah Singkat Lagu Hanya Debulah Aku (Puji Syukur 481): Mengingatkan Diri Bahwa Kita Hanyalah Manusia Lemah di Depan Allah

Ilustrasi debu tanah di sekitar salib (Freepik) - Image

Ilustrasi debu tanah di sekitar salib (Freepik)

JawaPos.com - Gereja Katolik memiliki koleksi lagu-lagu yang dapat ditemukan dalam buku Puji Syukur dan Madah Bakti. Lagu-lagu ini dapat digunakan untuk melengkapi puji-pujian saat ibadah, dan ada pula yang bertema untuk perayaan-perayaan. 

Saat ini, Gereja Katolik sedang berada di Masa Prapaskah, periode untuk persiapan Hari Raya Paskah dan perayaan-perayaan Paskah lainnya. 

Salah satu perayaan dalam Masa Prapaskah adalah Hari Rabu Abu yang dirayakan pada 18 Februari yang lalu. 

Pada hari itu, ada satu lagu wajib untuk dinyanyikan sebagai pengingat bahwa kita berawal dari debu dan akan berakhir menjadi debu. Lagu ini adalah 'Hanya Debulah Aku' (Puji Syukur 481). 

Sejarah Singkat

Dilansir dari My Avitalia, lagu 'Hanya Debulah Aku' adalah ciptaan dari seorang musisi Gereja Katolik bernama Cosmas Margono pada tahun 1980. 

Lagu ini diresmikan menjadi salah satu lagu liturgi Gereja Katolik sejak periode penggunaan buku Madah Bakti dan Puji Syukur. Sekarang lagu ini dapat ditemukan di berbagai kanal dan memiliki banyak versi lainnya

Makna

Sesuai dengan judulnya, lagu 'Hanya Debulah Aku' memiliki makna yang menunjukkan bahwa manusia hanyalah makhluk lemah dan penuh dosa, maka membutuhkan pengampunan. 

Sebagai seseorang yang penuh dosa, kita diibaratkan untuk menatap wajah Allah pun tak pantas. 

Akan tetapi, karena kepercayaan terhadap perlindungan Allah yang menghidupi dan menghangatkan kepada manusia akan menyelamatkan kita. 

Dengan begitu, selama Masa Prapaskah umat Katolik seharusnya merendahkan diri dan mohon ampun, serta melakukan pertobatan untuk mendapatkan perlindungan-Nya. 

Lirik

Puji Syukur 481 

Hanya Debulah Aku

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore