
Momen romantis saat YouTuber Reza Arap memberikan cincin untuk Lula Lahfah. (Instagram @weareaaaclan)
JawaPos.com - Kematian mendadak selebgram Lula Lahfah, pada Jumat (23/1), memicu gelombang spekulasi di media sosial. Di platform X (Twitter), netizen ramai mengaitkan meninggalnya selebgram berusia 26 tahun ini dengan penyalahgunaan Nitrous Oxide atau gas tawa melalui produk berlabel 'Whip Pink'.
Menanggapi isu liar tersebut, pihak kepolisian akhirnya buka suara. Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Murodih menegaskan, hingga saat ini penyidik belum menemukan bukti fisik terkait penggunaan gas tawa atau produk Whip Pink di lokasi kejadian.
"Belum ada di temukan," ujar Murodih kepada JawaPos.com, Sabtu (24/1).
Bukannya menemukan tabung gas, polisi justru menemukan sejumlah bukti medis yang menunjukkan bahwa almarhumah memang sedang dalam masa perawatan kesehatan.
"Tidak ada tanda tanda penganiayaan, namun ditemukan obat obatan sama surat rawat jalan dari RSPI," ungkap Murodih.
Apa Itu Whip Pink dan Bahaya Gas Tawa?
Produk Whip Pink sebenarnya merupakan alat kuliner yang digunakan para koki untuk membuat whipped cream. Alat ini menggunakan charger berisi gas Nitrous Oxide (N2O) agar krim bisa mengembang instan.
Namun, zat ini sering disalahgunakan secara rekreasional karena memberikan efek euforia singkat. Meskipun terlihat sepele, dampak jangka panjangnya sangat fatal bagi kesehatan.
Tren Berbahaya yang Telah Dilarang di Eropa
Fenomena penyalahgunaan gas tawa ini sebenarnya bukan hal baru. Di Eropa, gas ini sempat dijual bebas dalam bentuk balon di kelab malam dengan harga murah. Namun, karena risiko kesehatan yang sangat tinggi, negara-negara seperti Belanda telah melarang peredarannya sejak 1 Januari 2023.
Direktur European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction (EMCDDA), Alexis Goosdeel, memberikan peringatan keras mengenai bahaya laten zat ini.
"Banyak pengguna merasa ini zat ringan karena efeknya singkat. Padahal penggunaan berulang dapat menyebabkan kerusakan saraf serius dan gangguan pernapasan," tegasnya.
Di Belanda, Belgia, hingga Prancis, gas ini dijual secara informal di sekitar klub malam dan festival musik, biasanya dihirup melalui balon yang diisi dari tabung atau kartrid. Popularitasnya melonjak karena murah, mudah didapat, dan efeknya cepat hilang.
Aparat penegak hukum Eropa menyebut tren ini sebagai masalah serius. "Kami terus menemukan tabung dan balon bekas nitrous oxide di kawasan hiburan dan sekitar stasiun," ujar Audrey Dereymaeker, juru bicara Kepolisian Brussels-North, dikutip dari The Brussels Times.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
