Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Oktober 2025, 18.08 WIB

Langkah Besar Neuralink Elon Musk: Data Pasien Implan Otak Pertama Diserahkan ke Jurnal Medis Terkemuka Dunia

Ilustrasi chip otak Neuralink buatan perusahaan Elon Musk. (The Guardian) - Image

Ilustrasi chip otak Neuralink buatan perusahaan Elon Musk. (The Guardian)

JawaPos.com — Neuralink Corp., perusahaan implan otak yang didirikan oleh Elon Musk, telah mengajukan naskah ilmiah ke jurnal medis terkemuka yang berisi hasil uji klinis terhadap pasien manusia. Publikasi ini akan menjadi makalah ilmiah pertama Neuralink yang memuat data manusia hasil penelitian langsung.

Menurut Michael Lawton, CEO sekaligus Presiden Barrow Neurological Institute, salah satu lokasi uji klinis Neuralink, makalah tersebut telah dikirim ke New England Journal of Medicine. Naskah itu memuat hasil dari tiga pasien pertama yang telah menjalani implantasi alat Neuralink, termasuk data mengenai keamanan dan hasil klinisnya.

Dilansir dari Bloomberg, Senin (6/10/2025), Lawton menyatakan bahwa meskipun makalah tersebut sudah diserahkan, rincian lebih lanjut belum dapat diungkapkan kepada publik. Neuralink belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar resmi. Sebelumnya, perusahaan ini telah mengumumkan bahwa sebanyak 12 orang telah menerima implan otak buatan mereka sejauh ini.

Dalam konferensi mengenai implan otak yang diselenggarakan oleh Mount Sinai Health System di New York, Lawton menjelaskan bahwa Neuralink memiliki “visi untuk menerapkan link kepada hampir siapa pun yang memiliki kebutuhan potensial.”

Dia menambahkan bahwa perusahaan tersebut “masih jauh” dari kemampuan menanamkan alat itu pada individu sehat.

“Mereka sangat teliti dalam memfokuskan riset pada pasien dengan kondisi penyakit dan disabilitas,” ujar Lawton.

Presiden Neuralink, DJ Seo, dalam wawancara pada September lalu menjelaskan bahwa perusahaan berharap dapat melakukan implantasi pada individu sehat paling cepat pada tahun 2030. Saat ini, perangkat tersebut masih digunakan secara eksperimental pada pasien dengan gangguan motorik berat atau kebutuhan medis mendesak, karena uji keamanan dan efektivitasnya masih terus dievaluasi.

Sejalan dengan rencana tersebut, Neuralink menargetkan pemasangan chip pada 20.000 orang per tahun mulai 2031 dan berambisi meraih pendapatan tahunan minimal 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,57 triliun, dengan kurs Rp16.570 per dolar AS.

Selain perangkat yang memungkinkan pengendalian komputer melalui pikiran, perusahaan ini juga tengah mengembangkan chip yang dirancang untuk memulihkan penglihatan, membaca ucapan dari sinyal otak, serta membantu pengobatan penyakit Parkinson.

Meski demikian, langkah ilmiah ini berlangsung di tengah sejumlah tantangan teknis yang belum sepenuhnya teratasi. Menurut laporan The Guardian, implan pertama Neuralink dilaporkan mengalami gangguan ketika sebagian kabel elektroda yang sangat halus mulai tertarik keluar dari otak pasien, sehingga menurunkan performa alat.

Dalam blog internalnya, Neuralink mengonfirmasi bahwa “sejumlah kabel elektroda mulai bergeser dari posisinya di otak, mengakibatkan penurunan jumlah elektroda yang berfungsi efektif.”

Menanggapi perkembangan tersebut, Elon Musk menyatakan, “Kami sudah memiliki tiga manusia dengan Neuralink, dan semuanya berjalan dengan baik.” Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa stabilitas jangka panjang serta ketahanan teknologi tersebut masih memerlukan pengujian yang lebih menyeluruh sebelum dapat digunakan secara luas.

Publikasi ini menjadi langkah penting bagi perkembangan teknologi antarmuka otak-komputer atau brain-computer interface (BCI). Dengan adanya tinjauan sejawat atau peer review, komunitas ilmiah global dapat menilai secara independen efektivitas serta keamanan teknologi Neuralink.

Hal ini menandai pergeseran Neuralink dari sekadar perusahaan futuristik menuju lembaga yang berperan dalam penelitian medis berbasis bukti ilmiah.

Di tengah ambisi besar dan pengawasan ketat dunia medis, publikasi ilmiah ini menjadi tonggak baru bagi Neuralink. Dunia kini menantikan apakah data yang dipublikasikan akan membuktikan klaim revolusioner perusahaan tersebut atau justru membuka ruang bagi diskusi ilmiah yang lebih kritis. ***

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore