Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Oktober 2025, 18.09 WIB

Hamas-Israel Sepakat Damai di Fase Pertama Gencatan Senjata, Akhir Perang Berdarah di Gaza?

Asap meningkat menyusul ledakan di tengah serangan militer Israel di Kota Gaza, terlihat dari Jalur Gaza tengah, 6 Oktober 2025. perundingan Hamas-Israel terus berlangsung. (Dawoud Abu Alkas/ Reuters) - Image

Asap meningkat menyusul ledakan di tengah serangan militer Israel di Kota Gaza, terlihat dari Jalur Gaza tengah, 6 Oktober 2025. perundingan Hamas-Israel terus berlangsung. (Dawoud Abu Alkas/ Reuters)

JawaPos.com - Israel dan Hamas akhirnya menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang digadang-gadang menjadi penutup bagi perang Gaza, konflik paling mematikan antara kedua pihak sepanjang sejarah modern. 

Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui Truth Social, yang menyebut kesepakatan ini sebagai “hari bersejarah bagi dunia Arab, Israel, dan Amerika Serikat.”

Trump menegaskan bahwa kedua belah pihak telah menandatangani fase pertama dari Peace Plan yang dirancang Washington. Dalam pernyataannya, Trump menyampaikan beberapa hal, termasuk soal sandera. 

"Semua sandera akan segera dibebaskan, dan Israel akan menarik pasukannya ke garis yang disepakati sebagai langkah awal menuju perdamaian yang kuat dan abadi," kata Donald Trump.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para mediator dari Qatar, Mesir, dan Turki yang berperan penting dalam proses negosiasi.

Perundingan antara Israel dan Hamas tidak dilakukan secara langsung. Seluruh proses berjalan melalui negosiasi tidak langsung yang dimediasi oleh utusan Timur Tengah Presiden Trump, Steve Witkoff, menantunya Jared Kushner, serta perwakilan dari Mesir, Qatar, dan Turki di Sharm El-Sheikh, Mesir.

Meskipun belum diumumkan kapan gencatan senjata akan berlaku efektif, sejumlah sumber diplomatik menyebut kesepakatan itu mencakup pembebasan hampir 50 sandera, baik hidup maupun tewas, sebagai imbalan bagi pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel.

Kesepakatan juga mencakup langkah-langkah besar yang berpotensi mengubah lanskap politik Gaza.

Hamas disebut akan menyerahkan senjatanya dan tidak lagi berperan dalam pemerintahan wilayah pesisir itu setelah hampir dua dekade berkuasa. 

Sebagai gantinya, Gaza akan dikelola oleh komite transisi yang terdiri dari tokoh-tokoh Palestina dan pakar internasional, di bawah pengawasan Board of Peace yang diketuai langsung oleh Trump.

Meski disebut sebagai 'terobosan besar', skeptisisme tetap tinggi. Dua gencatan senjata sebelumnya, pada November 2023 dan Maret 2025, berakhir gagal hanya dalam hitungan minggu. 

Banyak pihak mempertanyakan apakah perjanjian kali ini dapat bertahan di tengah luka mendalam dan ketidakpercayaan yang masih kuat, khususnya terhadap Israel.

Sebagai informasi, sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023 akibat serangan mendadak Hamas ke wilayah selatan Israel yang menewaskan sekitar 1.200 orang, Israel melancarkan serangan balasan besar-besaran. 

Serangan militer itu telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza, dari rumah, sekolah, hingga rumah sakit.

Warga Gaza Bertahan di Tenda Pengungsian

Kini, lebih dari dua juta warga Gaza hidup dalam kondisi genting, banyak di antaranya bertahan di tenda-tenda pengungsian di dekat perbatasan Mesir.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore