Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Oktober 2025, 01.45 WIB

Pemulihan Gyeongbokgung Palace: Dari Vandalisme hingga Restorasi Warisan Budaya

Pengunjung mengenakan hanbok tradisional berjalan melewati gerbang Yeongchumun di Istana Gyeongbokgung, Seoul, Korea Selatan. (The Korea Times) - Image

Pengunjung mengenakan hanbok tradisional berjalan melewati gerbang Yeongchumun di Istana Gyeongbokgung, Seoul, Korea Selatan. (The Korea Times)

JawaPos.com - Dinding bersejarah Gyeongbokgung Palace di Seoul akhirnya kembali dibuka untuk publik setelah melalui proses pembersihan intensif akibat insiden vandalisme pada akhir tahun lalu. Seperti dilansir dari The Korea Times, grafiti ditemukan menodai dua sisi gerbang Yeongchumun serta dinding di dekat Museum Istana Nasional Korea, dengan panjang area yang rusak mencapai lebih dari 36 meter. Otoritas kebudayaan Korea Selatan menilai tindakan ini sebagai pelanggaran serius terhadap warisan budaya nasional.

Upaya pembersihan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian struktur dinding batu yang berusia ratusan tahun. Menurut laporan The Korea Times, proses tersebut melibatkan penggunaan teknologi modern seperti laser cleaner dan steam washer untuk menghapus cat semprot tanpa merusak lapisan asli dinding. Dalam delapan hari kerja, biaya yang dikeluarkan untuk peralatan khusus mencapai lebih dari 21 juta won, dan total biaya restorasi diperkirakan melebihi 100 juta won.

Masih dari sumber yang sama, pihak Cultural Heritage Administration (CHA) menegaskan bahwa mereka akan menuntut ganti rugi terhadap pelaku yang terlibat. Tiga tersangka telah ditangkap dan dijerat dengan Cultural Heritage Protection Act, yang mengancam hukuman minimal tiga tahun penjara. Langkah hukum ini menjadi sinyal kuat pemerintah untuk melindungi situs bersejarah dari tindakan vandalisme.

Selain pemulihan fisik, pemerintah Korea Selatan juga meningkatkan sistem keamanan di sekitar kompleks Gyeongbokgung. The Korea Times melaporkan bahwa CHA akan memasang lebih dari 20 kamera tambahan di area luar istana serta menambah personel keamanan untuk patroli malam. Langkah ini diharapkan dapat mencegah insiden serupa di masa mendatang sekaligus menjaga ketertiban pengunjung yang terus meningkat.

Sementara itu, pembatasan sementara diberlakukan di area Geunjeongjeon Hall, ruang tahta utama Gyeongbokgung. Seperti dilaporkan oleh Sayart.net, akses ke platform batu atau woldae ditutup hingga akhir Oktober 2025 untuk menjaga kestabilan struktur yang dinilai rapuh. Pengunjung tetap diperbolehkan melihat dari halaman luar, namun dilarang naik ke atas platform untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Keputusan pembatasan ini diambil setelah hasil inspeksi keselamatan 2023 memberikan penilaian “C” terhadap kondisi struktur Geunjeongjeon. Menurut Sayart.net, bagian timur woldae sempat mengalami keretakan dan telah direstorasi antara 2021 hingga 2023. Pemerintah menilai langkah konservatif ini penting agar perawatan jangka panjang bisa berjalan efektif tanpa harus menutup seluruh kompleks istana.

Popularitas Gyeongbokgung tetap tak tergantikan meski sejumlah area dibatasi. Berdasarkan laporan Sayart.net, jumlah pengunjung meningkat drastis hingga mencapai 6,44 juta orang pada tahun 2024, termasuk dua juta wisatawan mancanegara. Lonjakan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola dalam menyeimbangkan antara pelestarian dan akses publik.

Di sisi lain, proyek pemulihan lain tengah dilakukan di Heungbokjeon Hall, bagian penting dari kompleks Gyeongbokgung. Menurut laporan Asiae.co.kr, pemerintah memulai proyek pengecatan ulang dekorasi tradisional atau dancheong sejak Juni 2025 dan dijadwalkan selesai sekitar Juni 2026. Dancheong adalah seni pewarnaan tradisional khas Korea yang menggunakan kombinasi warna cerah untuk menghiasi bangunan kayu kerajaan.

Selama periode restorasi, akses ke area Heungbokjeon dibatasi untuk umum. Asiae.co.kr menambahkan bahwa papan pengumuman dan pagar sementara dipasang di empat gerbang utama sebagai langkah keamanan. Desain pewarnaan baru ditetapkan berdasarkan dokumen sejarah seperti Yeonggeon Ilgi dan Annals of the Joseon Dynasty agar hasil akhir tetap akurat secara historis.

Rangkaian perbaikan ini menegaskan komitmen Korea Selatan dalam melestarikan warisan budaya nasionalnya. Dari pembersihan grafiti hingga restorasi dekorasi istana, Gyeongbokgung terus menjadi simbol ketahanan sejarah di tengah arus modernisasi. Seperti diungkap The Korea Times, pemerintah berharap setiap langkah konservasi ini tidak hanya menjaga keindahan masa lalu, tetapi juga menanamkan kesadaran publik untuk lebih menghargai nilai sejarah di balik setiap batu dan warna dinding istana. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore