
Bernard Arnault, pendiri LVMH, yang kekayaannya melonjak di tengah polemik pajak kekayaan di Prancis. (Bloomberg)
JawaPos.com — Bernard Arnault, pendiri sekaligus Direktur Utama LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton, kembali menjadi sorotan dunia keuangan. Nilai kekayaannya melonjak hampir USD 19 miliar atau sekitar Rp314 triliun (kurs Rp16.570 per dolar AS) hanya dalam satu hari perdagangan, setelah saham LVMH menanjak 12 persen pada Rabu lalu.
Dengan total kekayaan mencapai USD 192 miliar, Arnault kini kembali menempati posisi puncak di antara para taipan dunia. Kenaikan tajam tersebut dipicu laporan keuangan LVMH yang melampaui ekspektasi pasar.
Perusahaan konglomerasi barang mewah itu membukukan pendapatan kuartalan sekitar €18,3 miliar atau sekitar Rp353 triliun (dengan kurs €1 = Rp19.310), didorong peningkatan permintaan di Amerika Serikat dan Tiongkok. Meski pasar Eropa melambat akibat penurunan belanja wisatawan, hasil ini menandai kembalinya optimisme di sektor barang mewah global.
Dilansir dari Bloomberg, Jumat (17/10/2025), lonjakan kinerja LVMH mengembalikan momentum Arnault setelah sempat merosot akibat pelemahan pasar Tiongkok pascapandemi. Kembalinya pertumbuhan ini juga menempatkan LVMH sebagai barometer kepercayaan konsumen kelas atas, sekaligus simbol ketahanan industri mewah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Namun, di dalam negeri, kesuksesan itu justru menimbulkan perdebatan baru. Arnault kini berada di pusat polemik nasional terkait rencana pemerintah Prancis untuk menerapkan pajak kekayaan terhadap individu dengan aset lebih dari €100 juta. Dalam wawancara dengan The Sunday Times, dia menilai usulan tersebut “bersifat ideologis dan berpotensi merusak tatanan ekonomi liberal yang selama ini mendorong kemakmuran bersama.”
Arnault juga menegaskan bahwa dirinya telah menjadi “salah satu pembayar pajak individu terbesar di Prancis, baik secara pribadi maupun melalui perusahaan-perusahaan yang dia jalankan.” Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan terhadap ekonom Gabriel Zucman, penggagas kebijakan yang populer disebut “pajak Zucman”.
Polemik ini mencerminkan ketegangan antara upaya pemerintah untuk mengatasi ketimpangan sosial dan kekhawatiran kalangan bisnis terhadap iklim investasi. Sejumlah analis menilai bahwa penerapan pajak kekayaan dapat memicu arus keluar modal dan mendorong pengusaha besar mencari perlindungan fiskal di luar negeri.
Di sisi lain, euforia pasar terhadap kinerja LVMH turut mengangkat saham perusahaan mewah Prancis lainnya, seperti Hermès International dan Kering SA, grup induk yang menaungi merek-merek ternama seperti Gucci, Saint Laurent, dan Balenciaga. Analis di Financial Times menilai, efek domino tersebut menunjukkan bahwa “industri mewah Eropa masih menjadi magnet bagi investor global,” meski menghadapi tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi.
Sebagai pengendali merek-merek ikonik seperti Louis Vuitton, Dior, Bulgari, dan Dom Pérignon, Arnault terus memperkuat posisi LVMH sebagai pemain utama dalam ekonomi aspiratif global. Langkah strategisnya di pasar Asia dan Amerika menunjukkan bahwa daya beli kelas atas dunia tetap tangguh, bahkan ketika ketidakpastian makroekonomi meluas.
Dengan kekayaan yang terus meningkat dan peran yang semakin berpengaruh dalam ekonomi global, Bernard Arnault kini bukan hanya simbol keberhasilan industri mewah Prancis, tetapi juga wajah dari perdebatan baru tentang keseimbangan antara kemakmuran individu dan tanggung jawab sosial di era kapitalisme modern. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
