
Tingkat suku bunga hipotek yang tinggi hanyalah salah satu faktor yang memperparah krisis keterjangkauan perumahan di Amerika Serikat. (Fortune)
JawaPos.com — Dua raksasa pasar properti Amerika Serikat, Berkshire Hathaway HomeServices yang berada di bawah kendali Warren Buffett dan perusahaan data perumahan Zillow Group, memperingatkan bahwa krisis keterjangkauan rumah di Amerika Serikat telah mencapai titik kritis.
Bahkan, penurunan suku bunga hipotek kini tidak lagi cukup untuk membuat rumah kembali terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan menengah.
Dalam laporan terbarunya, Zillow mencatat suku bunga hipotek tetap 30 tahun saat ini masih berada di atas 6 persen, jauh lebih tinggi dari kisaran di bawah 3 persen selama masa pandemi. Kondisi itu telah mendorong lonjakan harga rumah lebih dari 50 persen sejak 2020, menjauhkan peluang kepemilikan rumah bagi jutaan warga Amerika.
Dilansir dari Fortune, Rabu (29/10/2025), analis ekonomi Zillow, Anushna Prakash, menilai bahwa agar rumah kembali terjangkau bagi pembeli dengan pendapatan rata-rata, suku bunga harus turun hingga 4,43 persen.
“Dengan pendapatan dan harga rumah saat ini, suku bunga perlu turun ke 4,43 persen agar rumah dapat terjangkau bagi pembeli berpenghasilan median. Namun, penurunan sebesar itu saat ini tidak realistis,” ujar Prakash.
Dia menambahkan, bahkan dengan bunga 0 persen, rumah di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, Miami, San Francisco, San Diego, dan San Jose tetap sulit dijangkau bagi pembeli rata-rata.
Sementara itu, Berkshire Hathaway HomeServices dalam laporan awal Juli menyebutkan bahwa banyak pemilik rumah enggan menjual karena tak ingin kehilangan suku bunga rendah yang telah dikunci selama bertahun-tahun.
“Banyak pemilik rumah enggan melepas propertinya karena tak ingin mengganti suku bunga rendah yang telah mereka miliki,” demikian laporan perusahaan tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai efek ‘golden handcuffs’, di mana pemilik rumah terjebak oleh kenyamanan bunga lama dan memilih bertahan meski ingin pindah.
Situasi ini menimbulkan dampak ganda, calon pembeli kesulitan akibat bunga tinggi dan harga rumah yang melonjak, sementara pasokan rumah di pasar menipis karena banyak pemilik enggan menjual. Akibatnya, pasar perumahan menjadi stagnan.
Berdasarkan data ResiClub, jumlah rumah siap jual pada musim panas tahun ini mencapai 3,06 juta unit, naik 4,9 persen dibandingkan tahun lalu, namun tetap belum cukup menutup kekurangan pasokan rumah di seluruh negeri.
Kondisi tersebut diperparah dengan pertumbuhan upah yang tertinggal jauh dibandingkan kenaikan harga rumah. “Sebagian pembeli rumah pertama kini memilih menyewa jangka panjang atau tinggal bersama karena kepemilikan rumah terasa semakin mustahil,” ujar Alexandra Gupta, broker dari The Corcoran Group, dikutip dari Fortune.
Dari perspektif makroekonomi, kombinasi suku bunga tinggi, lonjakan harga rumah, dan minimnya pasokan menciptakan tekanan struktural yang kian memperparah pasar properti Amerika Serikat. Para analis menilai, selama tidak ada perbaikan nyata dalam kebijakan moneter maupun daya beli masyarakat, krisis keterjangkauan rumah tampaknya akan tetap berlanjut.
Sebagaimana disimpulkan Prakash, “Jika para pembeli menunggu penurunan besar dalam suku bunga atau harga rumah agar kembali terjangkau, mereka akan menghadapi kenyataan pahit.”
Krisis ini menegaskan bahwa tantangan kepemilikan rumah di Amerika bukan sekadar soal kebijakan moneter, melainkan juga cerminan ketimpangan struktural yang semakin mengakar dalam ekonomi domestik negara tersebut. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
