Square Enix melakukan PHK massal pada perusahaan-perusahaannya yang ada di Barat. (Dok. VideoGamesChronicle)
JawaPos.com - Square Enix lakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, menurut beberapa laporan. Dilansir dari IGN dan VGC pada 7 November 2025, Square Enix memberi tahu staf yang terdampak PHK bahwa pemangkasan dilakukan sebagai bagian dari "restrukturisasi fundamental organisasi penerbitan luar negeri" yang merujuk pada bisnis perusahaan di Barat.
"Pemangkasan sedang dilakukan di Eropa dan Amerika untuk membantu Square Enix menjadi lebih 'ringan' dan 'gesit'," kata presiden Takashi Kiryu kepada staf.
Meskipun jumlah pasti karyawan yang diberhentikan belum diumumkan, VGC menyebut sekitar 140 pegawai di kantor London berisiko kehilangan pekerjaa
PHK diketahui melibatkan berbagai departemen seperti TI, pemasaran, penerbitan, penjualan, QA (pengujian kualitas), dan perencanaan bisnis.
Langkah ini bukan yang pertama. Pada 2024, Square Enix juga memangkas tim baratnya dan menjual sejumlah aset, termasuk Crystal Dynamics, Eidos-Montréal, dan Square Enix Montréal, kepada Embracer Group sebagai bagian dari restrukturisasi sebelumnya.
Dalam laporan keuangannya, Square Enix menjelaskan bahwa restrukturisasi kali ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional serta memperkuat kemampuan penerbitan global. Perusahaan menargetkan penghematan biaya tahunan lebih dari 3 miliar yen (sekitar US$19,6 juta).
Selain PHK, Square Enix juga mulai serius mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengembangan game. Mereka berencana menggunakan AI generatif (genAI) untuk mengotomatisasi proses pengujian kualitas (QA) dan debugging hingga 70% pada tahun 2027.
Sebagai bagian dari upaya ini, Square Enix bekerja sama dengan Laboratorium Matsuo-Iwasawa dari Universitas Tokyo untuk mengembangkan teknologi otomasi QA berbasis AI. Proyek riset ini melibatkan lebih dari 10 peneliti dari kedua pihak dan bertujuan meningkatkan efisiensi serta memperkuat daya saing Square Enix di industri game global.
Meski begitu, penggunaan AI di dunia game masih menuai perdebatan. Sebagian pengembang menilai teknologi ini akan mempercepat inovasi, sementara pihak lain khawatir akan dampak etika dan hukum yang ditimbulkannya.
Namun, terlepas dari pro dan kontra, Square Enix tampaknya yakin bahwa AI adalah masa depan industri game, dan mereka bertekad menjadi salah satu pionir dalam transformasi tersebut. (*)
Editor: Siti Nur Qasanah
1
Jadwal Imsakiyah Ramadhan Hari Ini, 2 Maret 2026 untuk Surabaya dan Sekitarnya
2John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
3Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
4Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
5Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
6Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
7Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
8Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
9Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
10Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!